Anindya meletakkan sendoknya sejenak. "Saya tahu Kakek dan Tuan Adipati juga sedang mengkhawatirkan Arkana. Saya tidak ingin merepotkan kalian dengan keadaan saya."Ranaditya menatapnya cukup lama. "Kamu tidak merepotkan kami."Anindya terdiam.Ranaditya melanjutkan, "Kamu berada di sini karena Arkana penting bagimu. Kami memahami itu." Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, "Tetapi kamu juga penting sebagai dirimu sendiri. Jangan sampai kamu lupa. Lagipula, kamu seharusnya memanggil Adipati dengan sebutan Kakek, sudah bukan Tuan lagi. Bagaimanapun, Adipati sudah menganggapmu sebagai cucunya."Anindya membeku. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada kehangatan yang tidak pernah ia duga akan didengarnya dari Ranaditya. Selama ini, ia berusaha menunjukkan bahwa dirinya mampu berdiri di samping Arkana. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa memahami tanggung jawab, menghadapi kesulitan, dan tetap mempertahankan pilihannya. Ia tidak pernah mengharapkan kedua kakek itu memperlakukannya s
Read more