Mendengar soal makanan, mata kecil Lala langsung berbinar penuh kegembiraan. “Ah, iga, ikan kukus, puding telur kukus, dan paha ayam, ya? Kalau begitu, bagaimana kalau Ayah pergi ke pasar membeli bahan-bahan lalu memasaknya untuk Lala?” kata Abimanyu, mengikuti bantuan kecil dari putrinya. Bagaimanapun, makan di luar tidak sehangat makan di rumah. “Baik, baik! Bu, bolehkah Ayah membeli bahan makanan dan memasak untuk Lala?” Lala bertanya gembira kepada ibunya. “Kalau aku tidak salah ingat, selama aku mengenalmu, kau hanya pernah memasak mi untukku dua kali. Kau bisa memasak?” Nisa menatap Abimanyu dengan curiga. Tanpa sadar, sikapnya menjadi lebih lembut daripada sebelumnya. “Nanti kau akan tahu,” kata Abimanyu sambil menahan senyum dan berusaha menyembunyikan kegembiraannya. Kemudian, tanpa memedulikan apakah Nisa setuju atau tidak, ia duduk di kursi pengemudi sepeda listrik. Nisa ragu sejenak. Setelah bergumul dalam hati, akhirnya ia menaiki sepeda listrik itu. Ter
더 보기