104Bab 104Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, memantul di kaca-kaca gedung tinggi dan menciptakan suasana malam yang sibuk… namun bagi sebagian orang, justru terasa semakin sepi.Di dalam sebuah klub eksklusif, suasana ramai. Musik berdentum pelan, lampu remang-remang menyelimuti ruangan, dan aroma alkohol bercampur parfum mahal memenuhi udara.Namun di salah satu sudut, Calvin duduk sendiri. Jasnya masih rapi, tapi kancing bagian atas kemejanya sudah terbuka. Dasi dilonggarkan. Wajahnya terlihat lelah. Lebih dari biasanya.Di tangannya… sebatang rokok. Ia menyalakannya perlahan. Api kecil menyala di ujung korek, lalu berpindah ke rokok itu. Ia menarik napas dalam, asap memenuhi paru-parunya, lalu dihembuskan perlahan.Asap putih tipis melayang di udara. Berputar lalu menghilang.Tatapannya kosong. Tidak benar-benar melihat ke depan. Ia menarik lagi lebih dalam Seolah mencoba menenangkan sesuatu yang terus bergejolak di dalam dadanya.Namun… tidak berhasil.“Dia tidak bole
Read more