Bab 238Wangi segar dari kelopak mawar yang baru dipotong dan aroma manis melati memenuhi toko bunga kecil di sudut sebuah jalan di Tiongkok Selatan. Ziyi berdiri di balik counter, jari-jarinya yang ramping dengan hati-hati menata beberapa tangkai bunga lili ke dalam vas kaca. Sinar matahari sore berwarna keemasan menerobos masuk melalui jendela, memantulkan bayangan dirinya yang terlihat jauh lebih tenang, meskipun matanya masih menyimpan sisa-sisa badai masa lalu.Lonceng di atas pintu berdenting pelan, menandakan seorang pelanggan telah melangkah masuk."Selamat sore, Ziyi," sebuah suara pria yang hangat menyapa.Pria itu, Han, pemilik toko teh lokal di seberang jalan, berjalan mendekat dengan senyum lembut di wajahnya.Ziyi mendongak, meletakkan gunting bunganya, dan membalas sapaan itu dengan sopan."Selamat sore, Tuan Han. Ada yang bisa saya bantu? Apakah ada masalah dengan pesanan bunga anyelir untuk toko teh Anda?""Oh, tidak, tidak. Bunga-bunga yang kamu kirimkan kemarin sang
Read more