Malam berikutnya, setelah hukuman panjang dari Arthur, aku akhirnya bisa beristirahat sendirian di kamarku. Tubuhku masih sangat pegal, vaginaku terasa bengkak dan lengket oleh sisa cairan Arthur. Aku berbaring lemah di tempat tidur, mencoba memejamkan mata. Tapi ketenangan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba, semua lilin di kamar padam sekaligus. Suhu ruangan turun drastis, udara terasa berat dan penuh sihir kuno. Aku langsung terbangun, jantungku berdegup kencang. Di sudut kamar yang gelap, sebuah sosok tinggi muncul dari bayangan. Lark. Jubah peraknya berkibar pelan meski tak ada angin. Rambut peraknya tergerai, dan mata ungu pucatnya bersinar dingin, penuh kebencian yang murni. “Lylia,” suaranya halus tapi tajam seperti pisau es. “Manusia kotor.” Aku mundur ke kepala tempat tidur, menarik selimut hingga dada. “Lark… apa yang kau lakukan di sini?” Ia melangkah mendekat. Setiap langkahnya, rune-rune hitam muncul di lantai, merayap seperti ular hidup. Aku merasakan sihirn
Last Updated : 2026-06-03 Read more