LOGINMalam berikutnya, setelah hukuman panjang dari Arthur, aku (Lylia) akhirnya bisa beristirahat sendirian di kamarku. Tubuhku masih sangat pegal, vaginaku terasa bengkak dan lengket oleh sisa cairan Arthur. Aku berbaring lemah di tempat tidur, mencoba memejamkan mata. Tapi ketenangan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba, semua lilin di kamar padam sekaligus. Suhu ruangan turun drastis, udara terasa berat dan penuh sihir kuno. Aku langsung terbangun, jantungku berdegup kencang. Di sudut kamar yang gelap, sebuah sosok tinggi muncul dari bayangan. Lark. Jubah peraknya berkibar pelan meski tak ada angin. Rambut peraknya tergerai, dan mata ungu pucatnya bersinar dingin, penuh kebencian yang murni. “Lylia,” suaranya halus tapi tajam seperti pisau es. “Manusia kotor.” Aku mundur ke kepala tempat tidur, menarik selimut hingga dada. “Lark… apa yang kau lakukan di sini?” Ia melangkah mendekat. Setiap langkahnya, rune-rune hitam muncul di lantai, merayap seperti ular hidup. Aku meras
Arthur membawaku kembali ke kamarnya dengan langkah tegas, tubuhku tergantung di bahunya seperti boneka. Aku tak berani melawan. Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci dengan bunyi klik yang menyeramkan, ia melemparku ke tempat tidur besar dengan kasar. “Kau berani lari dariku, Lylia?” suaranya rendah dan penuh amarah posesif. “Malam ini kau akan belajar bahwa tidak ada jalan keluar dariku.” Ia merobek mantel hitamku hingga robek total, meninggalkanku telanjang di hadapannya. Dengan gerakan cepat, ia mengikat kedua tanganku ke tiang atas tempat tidur menggunakan ikatan sutra hitam yang kuat. Lalu ia membuka kakiku lebar-lebar dan mengikat masing-masing pergelangan kaki ke tiang samping, membuat tubuhku terbuka sempurna, tak berdaya, dan rentan. “Arthur… aku minta maaf…” bisikku gemetar. “Terlambat.” Ia membuka jubahnya. Kontolnya sudah berdiri tegak sempurna, tebal, panjang, dan berdenyut penuh amarah. Tanpa pemanasan, ia menampar vaginaku keras dua kali dengan telapak t
Malam itu, setelah tangisku habis dan hanya menyisakan rasa hampa yang dingin, aku bangkit dari lantai dengan tekad yang rapuh tapi membara. *Aku tidak mau menunggu dibuang seperti sampah.* Aku cepat-cepat mengganti gaunku dengan pakaian yang lebih gelap dan sederhana — mantel hitam panjang dengan tudung yang bisa menutupi wajah. Tangan-ku gemetar saat mengikat tali sepatu. Air mata masih sesekali jatuh, tapi aku mengusapnya kasar. **Konflik batinku kembali berkecamuk hebat:** *Apa yang kau lakukan, Lylia? Lari dari Arthur? Dari satu-satunya orang yang masih kau cintai di dunia neraka ini?* *Tapi dia mau membuangmu! Kau dengar sendiri tadi! “Yang sudah membosankan harus dibuang.” Kau sudah terlalu kotor baginya. Terlalu rusak. Kalau kau tetap di sini, besok atau lusa kau akan dilempar ke jurang atau penjara bawah tanah.* *Aku takut… tapi lebih takut lagi jika harus melihat wajahnya yang bosan saat membuangku.* *Aku masih mencintainya… tapi cinta ini hanya menyakitkan.*
Aku berjalan menyusuri koridor istana dengan langkah gontai, gaunku yang tipis sedikit kusut karena seharian aku gelisah. Tubuhku masih terasa lelah dan penuh bekas Arthur, tapi kali ini bukan kenikmatan yang kurasakan — melainkan kekosongan yang menyiksa. *Hanya Arthur yang tersisa…* pikirku sambil menggenggam tanganku sendiri yang dingin. *Kalau dia juga membenciku, lalu apa artinya aku di sini?* Aku sangat membutuhkan hiburan. Pelukan kasar sekalipun, ciuman posesif, atau bisikannya yang selalu mengatakan “Kau milikku, Lylia.” Setidaknya itu bisa sedikit menenangkan badai di hatiku setelah dihina habis-habisan oleh Lilith. Tapi begitu aku mendekati pintu kantor Arthur yang sedikit terbuka, aku mendengar suaranya — dingin, bosan, dan tanpa emosi: “…sudah tidak berguna lagi. Buang saja.” Aku membeku di tempat. Jantungku seolah berhenti berdetak. Suara Arthur melanjutkan dengan nada datar yang menusuk: “Yang sudah membosankan harus dibuang. Aku tidak suka barang rusak
Aku tak tahan lagi dengan keheningan dan kegelisahan yang menyiksa. Setelah dihina habis-habisan oleh Lilith sore tadi, hatiku hancur berkeping-keping. Air mata masih sesekali jatuh saat aku berjalan menyusuri koridor istana menuju kantor pribadi Arthur. 'Aku butuh dia,' pikirku. 'Aku butuh pelukannya, ciumannya, kata-katanya yang posesif. Setidaknya dia masih menginginkanku…'Jadi, setelah berpikir sejenak, aku pun beranjak dari ranjang dan berniat mencari Arthur di ruang kerjanya. Gaunku yang tipis bergoyang pelan saat aku berjalan cepat. Tubuhku masih terasa pegal dari sesi panjang semalam, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin Arthur memelukku dan bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Pintu kantor Arthur sedikit terbuka. Aku hendak mengetuk, tapi suara rendah dan dingin Arthur terdengar dari dalam, membuat tanganku terhenti di udara. “…sudah tidak berguna lagi. Buang saja.” Jantungku berdegup kencang saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arthur di dalam. Ak
Aku terbangun dengan napas tersengal, tubuhku masih telanjang di bawah selimut sutra hitam yang lengket oleh keringat dan sisa cairan Arthur dari malam tadi. Jantungku berdegup kencang seperti mau meledak. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena sebuah suara sistem yang dingin dan kejam bergema di kepalaku. 【Peringatan! Tingkat Kesukaan Arthur: 98 (Sangat Posesif) Tingkat Kesukaan Kael: -78 (Kebencian + Nafsu Terpendam) Tingkat Kesukaan Lark: -94 (Kebencian Mendalam + Rasa Jijik Ekstrem)】 Aku duduk tegak di tempat tidur, tanganku gemetar menutup mulut. “Tidak… ini tidak mungkin…” Dulu, saat pertama kali aku datang ke dunia ini, misi utamanya adalah membuat semua tokoh utama membenciku agar aku bisa kembali ke dunia manusia. Tapi anehnya, mereka malah jatuh cinta, Arthur menjadi obsesif, Kael diam-diam menginginkanku, bahkan Lark pernah memandangku dengan kekaguman. Sekarang? Misi baru mengharuskanku membuat semua pria di istana ini menyukaiku. Tapi hasilnya just







