Pintu kayu ek raksasa itu sudah tertutup rapat di belakang kami, seolah dunia luar tak lagi ada. Hanya rak-rak buku tua yang menjulang, cahaya lilin yang bergetar, dan napas kami yang semakin memburu. Arthur menciumku lebih dalam, lebih rakus, seolah ia ingin menelan seluruh esensi diriku. Lidahnya menari dengan lidahku dalam irama yang panas dan mendominasi, mengecap setiap sudut mulutku hingga aku kehilangan arah. Tangannya yang besar dan kasar menyusup lebih tinggi di balik gaunku, meremas paha dalamku dengan tekanan yang membuat otot-ototku menegang dan meleleh bersamaan. "Aku bisa merasakan panasmu," bisiknya serak di bibirku, suaranya seperti guntur rendah yang menggetarkan dada. "Kamu sudah basah untukku, peliharaan kecilku... hanya karena aku mengklaimmu seperti ini." Aku menggigit bibir bawahnya sebagai jawaban, tak sanggup lagi berpura-pura menahan. Tubuhku melengkung ke depan, menempel lebih erat pada dada bidangnya yang terasa seperti tungku hidup. Arthur mendengus puas
Last Updated : 2026-06-07 Read more