“Tuan Aisar.” Suara Silas membuat Elowen melepaskan pelukannya. Dia buru-buru menunduk, seolah hendak menelan kepalanya sendiri. Silas hanya melirik Elowen sekilas, lalu mengulas senyum. Dia tahu, semenjak Aisar menyatakan keseriusannya, gadis itu sudah terbebas dari kewajibannya di istana. Karena Aisar sendiri yang memintanya pada Lady Seraphine. “Kau disini, Elowen?” tanya Silas. “Aku kira kau sedang berada di perpustakaan untuk membaca dan belajar.” “Apa tujuanmu datang kesini, Silas?” potong Aisar dengan kening berkerut samar. “Fokus pada tujuanmu saja.” Silas menunduk patuh. “Pasukan sudah siap, Tuan. Kita akan segera berangkat.” “Aku tidak akan pergi hari ini. Kau bisa menggantikanku untuk memimpin pasukan,” ujarnya. Dia melirik Elowen yang mulai kembali mengangkat wajahnya. “Aku ada urusan yang harus ku selesaikan.” Silas mengernyit samar. “Urusan? Urusan sepenting apa, sampai Tuan melewatkan pencarian hari ini? Ini adalah pencarian Pangeran Adrien—” “Kau tidak perl
Baca selengkapnya