“Apa kita harus keluar dari istana ini dan hidup biasa saja?” Elowen menatap Aisar tanpa berkedip. Wajah pria itu benar-benar tampak lelah dan pucat. Belum lagi keringat yang terus mengalir di pelipisnya. Elowen menyentuh pipi Aisar, membuat pria itu mengangkat wajahnya, menatap gadis yang paling dia cintai. “Kejar mimpi, Tuan,” katanya. “Bukan hanya saya yang butuh Tuan Aisar, tapi istana ini juga membutuhkan Tuan. Bukankah Tuan ingin menjadi raja? Semua jalannya sudah terbuka dan hanya tinggal penobatan,” Aisar tidak langsung menjawab. Namun matanya tidak lepas dari wajah Elowen. Dia sesekali tersenyum melihat semangat yang kini ada di wajah gadis itu, tidak seperti terakhir kali dia mengungkapkan semua rencananya tempo hari. “Aku akan menjadi raja, kalau kau ratunya, Elowen,” katanya. Tangannya meraih tangan Elowen lalu menciumnya pelan. “Kalau tidak, aku tidak peduli lagi pada kerajaan ini.” Elowen diam. Ucapan Aisar kembali mengingatkannya pada percakapan Elisabeth dan A
Mehr lesen