Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium aroma tubuh Aisar. Hangat. Asing. Dan sangat menenangkan. Elowen menggeleng kasar. ‘Berhenti bermimpi, Elowen. Ini salah!’ Tapi anehnya, ia tidak bergerak menjauh. “Tidak, Tuan. Saya tidak takut,” katanya. “Saya sudah banyak berhutang budi. Saya tidak sepantasnya takut ataupun meragukan seseorang yang sudah menyelamatkan saya.” Aisar mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum. “Kalau begitu, jangan gemetar,” bisiknya, tepat di telinga Elowen. Ada desir halus yang membuat Elowen memejamkan matanya. Aisar tidak mengubah posisinya. Dia masih berdiri tepat di depan Elowen. Ia kembali mengangkat tangan Elowen, lalu mengernyit saat melihat salah satu jari Elowen sudah mengeluarkan darah. “Ini kenapa? Kau tidak bisa menjaga dirimu? Belum satu hari kau menjadi pelayanku, tapi sudah terluka seperti ini.” Elowen membuka matanya, lalu menatap luka di tangannya. Ia bahkan tidak ingat kapan dirinya terluka. ‘Ah … apa mungkin ini gara-gara tersa
Last Updated : 2026-05-07 Read more