Nathan sedang duduk di meja sudut cafeteria privat fakultas, berhadapan langsung dengan Dosen Clarissa.Di atas meja, dua cangkir kopi hitam tanpa gula sudah tersaji, pesanan yang sengaja dibelikan Clarissa tanpa bertanya lebih dulu, menegaskan betapa hafalnya sang dosen muda pada kebiasaan kopi Nathan."Kopi favorit kamu, Nathan. Tanpa gula, persis seperti biasa," ujar Clarissa dengan senyum percaya diri seraya mendorong cangkir tersebut mendekat ke arah Nathan.Dari meja seberang yang berjarak hanya beberapa meter, Alya menyaksikan interaksi itu.Matanya menatap tajam ke arah Clarissa, sementara kedua tangannya mengepal erat di atas pangkuan.Rasa kesal yang membakar sejak kejadian di ruang bimbingan tadi makin menjadi-jadi saat melihat Clarissa berbuat seolah-olah paling mengenal Nathan.Clarissa, yang sadar betul bahwa Alya sedang memperhatikan mereka, sengaja meninggikan volume suaranya."Saya sudah bicara dengan Dekan soal rekomendasi Beasiswa Riset Utama," lanjut Clarissa denga
Leer más