"Kalaupun ada cewek di jalan, kenapa? Lo mau cemburu, Sis?" balas Nathan dengan suara bariton yang dalam, pelan, namun bergetar mengimidasi di lorong staf yang sunyi.Siska terkekeh manja, mencoba menjaga pertahanan gengsinya.Tangan kanannya yang terawat memegang sebuah map dokumen tebal di dadanya, sementara jemari kiri wanitanya dengan sengaja merapikan bagian kerah kaus hitam Nathan yang sedikit terlipat."Ya nggak berani lah cemburu sama anak Pak Heri Utama," cicit Siska dengan nada menggoda yang makin berani. "Tapi bau baju kamu beda, Mas. Beda banget dari biasanya. Nggak bau parfum cowok yang biasa kamu pakai."Nathan terkekeh pelan—suara kekehan yang berat dan sarat akan dominasi jantan.Sebelum Siska sempat menarik tangannya kembali, jemari besar Nathan yang kokoh melesat menyambar pergelangan tangan wanita itu.Cengkeramannya tidak menyakitkan, namun cukup kuat untuk mengunci pergerakan Siska secara mutlak.Dengan satu dorongan tenang tapi tak bergeming, Nathan mengarahkan t
Read more