Hujan badai menghantam dinding gua terpencil di lereng Pegunungan Obsidian. Petir menyambar, membiaskan cahaya biru dingin yang memperlihatkan gurat kesakitan di wajah Nayra. Tubuhnya yang terbungkus gaun pengantin compang-camping bersandar di dinding batu yang kasar, berlumuran darah yang bukan miliknya, namun rasa perihnya menghunjam tepat di sumsum tulang Nayra seolah tubuhnya sendiri yang dikuliti.Di hadapannya, Kael Varyn sedang berjuang dengan sisi iblisnya. Pria itu menekan dadanya, di mana luka sayatan akibat artefak suci masih berasap, memancarkan bau terbakar yang busuk. Cahaya putih suci itu adalah racun bagi iblis, dan bagi Kael, itu adalah siksaan abadi yang tak kunjung sembuh."Berhenti menahan napasmu, Kael! Kalau kamu terus melawan, luka itu akan membusuk hingga ke tulang belakangmu!" Nayra berteriak, suaranya parau. Ia menyeret tubuhnya mendekat, memaksakan tangan yang gemetar untuk menyentuh permukaan luka Kael."Jangan menyentuhnya!" Kael menggeram. Matanya yang me
Read more