"Jadi, bagaimana? Mau kawin lari bersamaku, Arinka?" Arinka yang bersandar pada sandaran kursi mobil milik Dean hanya bisa mengalihkan pandangannya ke samping. Menghindari tatapan sang kakak tiri di sana. "Boleh, kalau kau mau keluarga kita kacau," jawab Arinka sekenanya. Namun, jawaban itu justru malah disambut dengan senyuman lebar oleh Dean. "Kau yakin? Aku bisa benar-benar melakukannya kalau kau memang setuju untuk menikah denganku. Aku tidak masalah kalau kita—" "Jangan gila, Dean," potong Arinka cepat. Kali ini, wanita itu sudah menoleh ke arah Dean di sampingnya. Sebab, ucapan Dean tidak seperti sedang bercanda atau semacamnya. Padahal, jawaban Arinka sebelumnya hanyalah jawaban yang asal. Sedikitpun Arinka juga tidak pernah memiliki pikiran untuk menikah dengan kakak tirinya sendiri. Itu terlalu gila. Sudah cukup kegilaan mereka sampai di atas ranjang saja, tidak pada hubungan yang lebih serius seperti pernikahan. "Lagipula, kitu juga tidak sedarah. Aku dan kau bahkan s
Read more