Setelah ia menutup pintu kamar Ayas, Belvara memejamkan mata rapat, seraya dengan bibir bawahnya yang ia gigit cukup kuat, ingin menolak namun sulit, akhir-akhir ini ia mulai enggan melayani sang suami. Meski malas, ia tetap mematuhi keinginan Hagan—mendatangi kamarnya, dan seolah tak perlu permisi pada sang pemilik ruangan, ia sudah diizinkan untuk memasukinya begitu saja. Ia membuka pintu itu perlahan, menatap ke arah ranjang. Di sana, Hagan sedang bersandar pada kepala ranjang, satu kakinya ia tekuk sebagai penahan buku yang sedang dibacanya, dengan kacamata yang bertengger di batang hidung bangirnya.Hagan menoleh dengan senyum tipis membentang di wajah, kemudian ia menepuk lembut sisi ranjang sebelahnya, mengisyaratkan untuk ia duduk di sana. Belvara paham akan isyarat itu, namun tak membalas senyum yang hagan berikan, ia berjalan mendekat ke arah ranjang dan mendudukan bokongnya perlahan, sekilas menatapnya ragu.“Lebih dekat lagi Belvara,” pinta Hagan, kali ini terdengar lembu
더 보기