"Braelyn, kamu kenapa menangis? Ada yang sakit?" suara Adrian Wilson memecah keheningan kamar rawat, penuh dengan nada panik seorang ayah yang mendadak melihat putrinya lemas sambil mendekap secarik kertas. Adrian buru-buru meletakkan bayi mungil di dekapannya ke dalam boks bayi di samping tempat tidur, lalu menempelkan telapak tangannya ke kening Braelyn, memeriksa suhu tubuh putrinya yang tampak sewarna kertas kapas.Braelyn menggeleng cepat, menghapus air matanya dengan punggung tangan yang terasa sangat halus—tanpa bekas luka bakar elektromagnetik, tanpa sisa jelaga dari ledakan stasiun akhir. "Nggak apa-apa, Yah. Cuma... cuma terharu lihat Adik," dusta Braelyn, suaranya serak hampir habis.Pikirannya berdenyut liar di balik pelipis, mencoba menyinkronkan memori lawas dengan realitas baru ini. Gue ada di tahun 2012. Hari di mana Adik lahir. Ibu masih hidup, belum gila karena safir hitam, dan Ayah masih jadi dokter biasa. Tapi surat ini... surat dari Eryx
Baca selengkapnya