Aroma kopi arabika yang pekat langsung menyambut mereka begitu pintu kedai kayu itu didorong. Tempatnya tidak terlalu besar, hanya ada sekitar enam meja melingkar dengan pencahayaan kuning temaram yang hangat. Di sudut ruangan, sebuah piringan hitam tua berputar lambat, melantunkan melodi jazz instrumental yang menenangkan—sangat jauh dari kebisingan siber-kode hitam atau alarm kehancuran yang biasa merobek gendang telinga Braelyn.Eryx menarikkan salah satu kursi kayu di dekat jendela besar untuk Braelyn. "Silakan, Nona Wilson," ujarnya dengan nada bercanda yang terdengar sangat natural, seolah tubuhnya sudah punya memori otomatis untuk selalu memperlakukan Braelyn seperti seorang ratu."Makasih, Pelindung... maksud gue, Eryx," Braelyn meralat ucapannya dengan cepat, hampir saja kelepasan memanggil panggilan lamanya. Dia duduk sambil melipat tangan di atas meja, menatap Eryx yang kini duduk di hadapannya setelah memesan dua cangkir americano hangat ke barista.
Read more