Aira tidak menyangka… ia bisa merasa setenang ini.Duduk di bangku taman, ditemani Raka, semuanya terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa hari terakhir.Raka tidak banyak bertanya.Tidak memaksa.Hanya menemani.Dan itu… cukup.“Kamu berubah,” ucap Raka pelan.Aira menoleh. “Berubah bagaimana?”Raka tersenyum tipis. “Kamu jadi lebih… diam.”Aira tertawa kecil. “Mungkin karena terlalu banyak hal yang terjadi.”Raka mengangguk pelan, seolah mengerti tanpa perlu penjelasan.“Kalau capek,” katanya, “kamu tidak harus menahan semuanya sendiri.”Kalimat itu sederhana.Tapi entah kenapa… terasa menenangkan.Aira menunduk sedikit. “Aku sudah terbiasa sendiri.”Raka tidak langsung menjawab.Namun tatapannya berubah… lebih dalam.“Sekarang kamu tidak sendiri,” ucapnya pelan.Deg.Jantung Aira berdetak sedikit lebih cepat.Suasana tiba-tiba terasa berbeda.Ia tidak sempat merespons—Karena suara lain tiba-tiba memotong.“Aira.”Satu kata.Datar. Dingin.Namun cukup untuk membuat tubuh Aira me
Last Updated : 2026-05-04 Read more