Aira tidak langsung pulang.Entah kenapa, kakinya terasa berat meninggalkan gedung itu. Perasaan tidak nyaman sejak rapat tadi masih tertinggal, menempel seperti bayangan yang sulit dihilangkan.Ia berdiri di dekat lobi, mencoba mengatur napas.Orang-orang masih berlalu-lalang. Beberapa meliriknya, berbisik pelan, lalu berlalu begitu saja.Aira menunduk.Ia benar-benar tidak cocok di sini.“Sepertinya kamu tersesat.”Suara itu membuat Aira menoleh.Pria yang tadi berada di ruang rapat berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya terlihat ramah… tapi entah kenapa, Aira tidak merasa nyaman.“Saya tidak tersesat,” jawab Aira sopan.Pria itu tersenyum tipis. “Oh ya? Karena dari tadi saya lihat kamu hanya berdiri di sini.”Aira tidak menjawab.Ia hanya ingin percakapan ini cepat selesai.“Saya Andra,” lanjut pria itu sambil mengulurkan tangan. “Direktur pemasaran.”Aira ragu sejenak, tapi akhirnya menyambut uluran tangan itu.“Aira.”“Ya, saya sudah tahu,” ucap Andra santai. “Istri Pak Arka,
Dernière mise à jour : 2026-05-03 Read More