Se connecter“Aku menikahimu… bukan untuk mencintaimu. Tapi untuk menghancurkanmu.” Aira membeku. Terlambat—karena ia sudah jatuh cinta. Saat kebenaran terungkap, ia pergi… membawa luka. Dan saat Arka menyesal, Aira sudah berubah— tidak lagi lemah… dan tidak lagi miliknya. Apalagi kini, ada Raka— pria yang mencintainya tanpa menyakitinya. Jika kamu jadi Aira… kamu akan kembali, atau memilih pergi selamanya?
Voir plus“Menikahlah denganku… dan semua hutang keluargamu akan lunas.”
Aira membeku di tempatnya. Tangannya yang menggenggam map tagihan rumah sakit perlahan melemah. Kertas-kertas itu hampir jatuh, kalau saja ia tidak buru-buru meremasnya kembali. Angka yang tercetak di sana masih sama—puluhan juta rupiah yang mustahil ia kumpulkan dalam waktu singkat. Ia menelan ludah, lalu menatap pria di depannya. Arka Mahendra. Nama yang selama ini hanya ia lihat di layar ponsel. CEO muda, sukses, dan terkenal dengan sikap dinginnya. Pria yang sekarang berdiri tepat di hadapannya, menawarkan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan. “Maaf… maksud Anda apa?” suara Aira bergetar, nyaris tidak terdengar. Arka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Aira dengan ekspresi datar, seolah reaksi itu sudah ia prediksi sejak awal. “Aku tidak mengulang dua kali,” ucapnya tenang. “Aku butuh seorang istri. Kamu butuh uang. Ini kesepakatan yang sederhana.” Sederhana? Bagi Aira, itu sama sekali tidak sederhana. Dadanya terasa sesak. Kata-kata pria itu terdengar begitu dingin, tanpa emosi, tanpa rasa bersalah. Seolah yang sedang dibicarakan bukanlah pernikahan… melainkan transaksi bisnis biasa. “Aku bukan orang seperti itu,” jawab Aira pelan, mencoba mempertahankan harga dirinya. Untuk pertama kalinya, Arka sedikit mengubah posisinya. Tatapannya menjadi lebih tajam. “Kalau begitu, cari cara lain untuk menyelamatkan ayahmu.” Kalimat itu menghantam tepat di jantungnya. Napas Aira tercekat. Jari-jarinya semakin kuat meremas map di tangannya. Ayahnya. Satu-satunya alasan ia masih berdiri sampai sekarang. “Operasinya harus dilakukan secepat mungkin,” lanjut Arka, suaranya tetap tenang. “Tanpa itu, kamu juga tahu apa yang akan terjadi.” Aira menunduk. Air matanya menggenang, tapi ia tahan sekuat mungkin. Ia tidak mau terlihat lemah di depan pria ini. Ia sudah mencoba semuanya. Meminjam uang ke sana-sini—ditolak. Menghubungi keluarga—tidak ada yang mampu membantu. Dan sekarang… Satu-satunya jalan yang tersisa ada di depannya. “Kenapa aku?” tanyanya lirih. Arka terdiam sejenak, lalu menjawab singkat, “Karena kamu cocok.” Jawaban yang menggantung. Tidak jelas. Tapi cukup untuk membuat Aira sadar bahwa pria ini tidak akan menjelaskan lebih jauh. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Berapa lama?” tanyanya akhirnya. “Setahun.” “Setelah itu?” “Kita bercerai.” Begitu mudah diucapkan. Seolah pernikahan bukan sesuatu yang sakral, melainkan kontrak yang bisa diakhiri kapan saja. Aira menggigit bibirnya. Kepalanya dipenuhi berbagai pikiran. Ini gila. Menikah dengan orang asing demi uang. Tapi jika ia menolak… ayahnya mungkin tidak akan bertahan. “Apa yang harus aku lakukan?” suaranya hampir seperti bisikan. Senyum tipis muncul di wajah Arka. Bukan senyum hangat, melainkan senyum yang terasa dingin dan penuh perhitungan. “Hanya satu,” katanya. Aira mengangkat wajahnya perlahan. “Jangan pernah berharap lebih dariku.” Kalimat itu seperti garis tegas yang membatasi segalanya. Tidak ada cinta. Tidak ada harapan. Tidak ada perasaan. Hanya kesepakatan. Hati Aira terasa nyeri, tapi ia menahan semuanya. Ini bukan tentang dirinya. Ini tentang ayahnya. Tentang hidup yang harus ia selamatkan. “Baik,” ucapnya akhirnya, dengan suara yang lebih mantap dari yang ia rasakan. “Aku akan menikah denganmu.” Arka berdiri, merapikan jasnya seolah semua sudah sesuai rencana. “Bagus.” Satu kata. Tanpa emosi. “Pernikahan akan dilangsungkan secepatnya,” lanjutnya. Aira mengangguk pelan. Ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Ia hanya menatap pria itu sekali lagi. Berharap… mungkin ada sedikit keraguan di matanya. Sedikit tanda bahwa keputusan ini juga tidak mudah baginya. Namun tidak ada. Yang ia lihat hanyalah ketenangan dingin, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan sebuah kesepakatan bisnis. Dan saat itu, Aira belum menyadari satu hal— Bahwa keputusan yang ia ambil hari ini bukan hanya akan mengubah hidupnya… Tapi juga menghancurkannya perlahan.Layar ponsel Aira masih menyala.Dua notifikasi muncul hampir bersamaan.EvanKita ngobrol setelah kerja? Banyak yang mau aku tanyain.Dan beberapa detik kemudian—Arka Calling…Aira menatap layar itu cukup lama.Entah kenapa akhir-akhir ini semuanya terasa rumit.Hal kecil terasa besar.Hal sederhana terasa melelahkan.Pada akhirnya, ia menerima panggilan itu.“Halo?”“Kamu masih di kantor?”Suara Arka terdengar tenang seperti biasa.Terlalu tenang.“Iya.”“Aku jemput.”Aira mengernyit.“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.”Sunyi beberapa detik.Lalu suara Arka kembali terdengar.“Aku sudah di bawah.”Deg.Aira menatap layar ponselnya.Panggilan berakhir.Dan anehnya—Ia tidak tahu harus merasa apa.⸻Lima belas menit kemudian—
Pagi itu dimulai lebih tenang.Terlalu tenang.Dan justru itu yang membuat Aira merasa aneh.Sudah tiga hari sejak acara perusahaan.Tiga hari sejak Arka meminta maaf.Tiga hari sejak pria itu mulai berubah sedikit demi sedikit.Tidak banyak.Tapi cukup untuk disadari.⸻“Aira.”Suara Arka terdengar dari meja makan.Aira mendongak.Pria itu mendorong segelas susu ke arahnya.“Kamu lupa.”Aira berkedip pelan.“Oh.”Hanya itu jawabannya.Karena sampai sekarang—Ia masih belum terbiasa.Dulu Arka bahkan tidak memperhatikan apakah ia sudah makan atau belum.Sekarang—Ia ingat hal kecil seperti ini.Dan itu membuat Aira bingung.⸻Di mobil menuju kantor—Sunyi.Namun tidak seburuk biasanya.Sampai akhirnya—“Aira.”“Hm?”“
Perjalanan pulang terasa sunyi.Terlalu sunyi.Aira duduk di sisi jendela mobil, memandang lampu kota yang berlalu begitu saja.Biasanya—Arka akan membiarkan suasana seperti ini.Diam.Dingin.Selesai.Namun malam ini berbeda.Karena setiap kali melirik ke arah Aira—Yang ia lihat bukan kemarahan.Melainkan kelelahan.Dan itu terasa lebih buruk.⸻“Aira.”Suara Arka memecah keheningan.Aira tidak langsung menoleh.“Hm?”“Aku…”Kalimat itu menggantung.Aneh.Seumur hidupnya—Arka tidak pernah kesulitan bicara.Namun sekarang—Untuk meminta maaf saja terasa sulit.“Aku tidak bermaksud membuatmu seperti tadi.”Aira tersenyum kecil.Lelah.“Tapi tetap terjadi.”Deg.Jawaban itu membuat Arka kembali diam.Karena
Udara malam terasa dingin.Terlalu dingin.Atau mungkin—Aira saja yang sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun.Ia duduk diam di bangku taman kecil di depan hotel. Noda merah masih terlihat samar di gaunnya.Memalukan.Malam itu seharusnya hanya acara biasa.Tapi entah kenapa—Rasanya seperti seluruh dunia sedang mengingatkannya bahwa ia tidak cocok berada di sisi Arka.“Aira.”Suara Raka terdengar pelan.Pria itu datang membawa dua botol air mineral.Lalu duduk di sampingnya.Tidak terlalu dekat.Tidak terlalu jauh.Pas.“Aku kelihatan sangat menyedihkan ya?” tanya Aira pelan.Raka menggeleng.“Kamu kelihatan capek.”Jawaban sederhana itu—Entah kenapa membuat mata Aira mulai panas lagi.“Aku sudah berusaha,” bisiknya.Raka diam.“Aku berusaha masuk ke dunianya.”“
Gedung perusahaan itu menjulang tinggi, seolah menegaskan siapa pemilik kekuasaan di dalamnya.Aira berdiri di depan pintu mobil, menatap bangunan besar itu dengan perasaan tidak nyaman.Ini dunia Arka.Dunia yang sama sekali tidak ia kenal.“Jangan terlihat gugup.”Suara Arka membuat Aira menoleh.
Pagi pertama sebagai istri Arka Mahendra…Tidak terasa seperti awal yang baru.Aira bangun dengan tubuh pegal. Sofa yang ia tempati semalaman jelas bukan tempat tidur yang nyaman. Lehernya terasa kaku, dan kepalanya sedikit pusing.Ia membuka mata perlahan.Cahaya matahari masuk dari balik tirai be
Pernikahan itu berlangsung terlalu cepat.Aira bahkan tidak sempat benar-benar mencerna semuanya.Gaun putih yang ia kenakan terasa asing di tubuhnya. Senyum yang ia tampilkan sepanjang acara terasa dipaksakan. Orang-orang datang, mengucapkan selamat, tapi tidak satu pun dari mereka benar-benar ia
“Menikahlah denganku… dan semua hutang keluargamu akan lunas.”Aira membeku di tempatnya.Tangannya yang menggenggam map tagihan rumah sakit perlahan melemah. Kertas-kertas itu hampir jatuh, kalau saja ia tidak buru-buru meremasnya kembali. Angka yang tercetak di sana masih sama—puluhan juta rupiah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires