Begitu sampai IGD, Sarah langsung di tidurkan di ranjang pasien. Luka di dahinya sudah dibersihkan dan ditutup. Wajahnya masih pucat, tapi jauh lebih sadar.Jam praktik Vio masih lama, dan hari itu semua orang tahu satu hal: jangan ganggu Vio.Dia duduk di samping ranjang sejak awal. Dari jauh, Adriel berdiri di ujung ruangan. Tidak mendekat. Hanya memastikan semuanya berjalan baik.Sarah pelan menoleh ke Vio. Senyum kecil muncul. “Aku beneran gak papa, Vi.”Vio langsung menggeleng. “Kakak lemes banget.”“Aku cuma kaget. Itu aja.”Hening sebentar.Sarah menatap Vio lebih lama, lalu berkata pelan, “Yang harusnya dikhawatirin itu kamu.”Vio mengernyit. “Kenapa aku?”Sarah melirik Adriel yang memperhatikan mereka. "Driel, Vio mimisan."Adriel bergerak siaga. Ia merogoh sapu tangan dan membantu Vio menunduk. "Pusing?" Tanyanya berusaha tenang, padahal ia panik setengah mati.Vio tak menjawab.Sarah tersenyum lembut. “Tenang, Vi. Aku udah disini. Kamu istirahat gih.”Vio meng
Baca selengkapnya