Meira menjauhkan cangkirnya dengan tangan gemetar. Dia batuk keras berkali-kali. Nadia buru-buru meletakkan cangkirnya dan menyodorkan tisu kepada Meira. "Pelan-pelan, Sayang. Minum lagi tehnya sedikit.""Ya, Ma." Meira mengambil tisu itu. Ia berdeham beberapa kali. "Tentu saja kami melakukannya setiap hari. Kami bekerja dari pagi sampai malam."Nadia mengerjap dua kali.Lalu tawanya pecah."Bekerja?" ulang Nadia di sela tawanya. "Ya ampun, Meira. Mama bukan sedang bertanya soal pekerjaan."Meira meremas tisu di tangannya. "...Oh.""Urusan ranjang, Meira Sayang," jawab Nadia.Meira kembali terbatuk, meski kali ini tidak sedang minum."Mama sedang membicarakan soal cucu." Nadia memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan kedua tangan di atas lutut. "Kalian harus pintar-pintar mengatur jadwal. Lucien memang sibuk, kamu juga sibuk. Tapi kalian harus meluangkan waktu khusus untuk itu.""Ma, kami...""Waktu terbaik untuk melakukannya adalah pagi hari, Meira," potong Nadia. "Pria itu biasa
Last Updated : 2026-08-31 Read more