Suara deru mesin mobil yang mati seketika meninggalkan kesunyian yang mencekik saat mereka tiba di rumah. Sari melangkah keluar dengan bahu yang merosot, matanya sejenak memperhatikan bangunan mewah yang kini menjadi penjara emasnya.Begitu pintu depan terkunci otomatis di belakang mereka, atmosfer berubah. Di kampus, Arya adalah dinding beton yang dingin. Di sini, ia adalah api yang siap melalap apa saja.Setelah masuk ke dalam kamar. Arya melepas jas abu-abunya, menyampirkannya di sofa dengan gerakan yang sangat tenang. Ketenangan yang justru membuat bulu kuduk Sari meremang.Pria itu melonggarkan dasinya, lalu menoleh pada Sari yang masih mematung di dekat pintu kamar mereka."Hari ini sangat melelahkan, bukan?" suara Arya rendah, bergema di ruangan yang kedap suara itu. Ia melangkah mendekat, memperkecil jarak hingga Sari bisa mencium aroma sandalwood yang bercampur dengan ketegangan. "Riset, kelas seminar, dan... drama di lorong tadi. Tubuhku
Read more