LOGIN"Saya mengumumkan bahwa asisten riset utama untuk proyek jurnal internasional semester ini adalah Sari."
Suara bariton Arya Pratama bergema di ruang seminar yang sunyi, memotong keheningan dengan otoritas yang tak terbantahkan. Ia berdiri di balik podium dengan kemeja abu-abu gelap yang lengannya digulung hingga siku, memancarkan aura intelek sekaligus dominasi yang membuat seisi kelas terpukau."Sari adalah mahasiswi dengan dedikasi tinggi. Mulai hari ini, ia akan bekerja lLangkah kaki Andra terhenti tepat dua meter di depan mobil mewah Arya. Napasnya memburu, matanya memerah menatap tangan Arya yang masih melingkar posesif di pinggang Sari.Di sekeliling mereka, waktu seolah melambat. Mahasiswa yang berlalu-lalang mulai memperlambat langkah, bisik-bisik tajam mulai mengudara seperti polusi yang menyesakkan."Sari... apa maksud semua ini?" suara Andra bergetar, antara amarah dan luka yang dalam. "Kenapa kamu keluar dari mobilnya? Kenapa kamu bersama dia?"Sari merasakan remasan Arya di pinggangnya menguat. Sebuah peringatan bisu yang dingin. Ia mendongak sejenak, melihat rahang tegas Arya dan tatapan matanya yang seolah sedang menonton sebuah pertunjukan komedi membosankan.Sari tahu, jika ia tidak bicara sekarang, nasib Andra akan berakhir di tangan pria ini.Sari menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk menghancurkan hati pria yang selalu tulus padanya."Andra, berhenti mengga
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden blackout di kamar utama, memantul pada seprai sutra yang berantakan.Sari terbangun dengan perasaan yang asing. Ada ketenangan yang sempat singgah, sisa-sisa kelembutan Arya di bawah guyuran air semalam yang masih membekas di ingatannya.Namun, ketenangan itu menguap saat ia menyadari sisi tempat tidur di sampingnya sudah dingin.Ia menoleh ke arah balkon. Di sana, Arya Pratama sudah berdiri tegak, membelakangi kamar. Kemeja hitam elegannya melekat sempurna di tubuh tegapnya, lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.Ia sedang menyesap kopi hitam sambil membaca tumpukan berkas riset, tampak seperti potret pria sukses yang tidak tersentuh noda apa pun."Sudah bangun?" suara bariton Arya terdengar tanpa ia perlu berbalik.Sari tersentak, segera menarik selimut menutupi dadanya. "I-iya, Mas.""Ber
Suara deru mesin mobil yang mati seketika meninggalkan kesunyian yang mencekik saat mereka tiba di rumah. Sari melangkah keluar dengan bahu yang merosot, matanya sejenak memperhatikan bangunan mewah yang kini menjadi penjara emasnya.Begitu pintu depan terkunci otomatis di belakang mereka, atmosfer berubah. Di kampus, Arya adalah dinding beton yang dingin. Di sini, ia adalah api yang siap melalap apa saja.Setelah masuk ke dalam kamar. Arya melepas jas abu-abunya, menyampirkannya di sofa dengan gerakan yang sangat tenang. Ketenangan yang justru membuat bulu kuduk Sari meremang.Pria itu melonggarkan dasinya, lalu menoleh pada Sari yang masih mematung di dekat pintu kamar mereka."Hari ini sangat melelahkan, bukan?" suara Arya rendah, bergema di ruangan yang kedap suara itu. Ia melangkah mendekat, memperkecil jarak hingga Sari bisa mencium aroma sandalwood yang bercampur dengan ketegangan. "Riset, kelas seminar, dan... drama di lorong tadi. Tubuhku
Langkah kaki Sari yang tergesa menghantam aspal gerbang fakultas dengan irama yang kacau, persis seperti detak jantungnya. Ia menarik kerah kemejanya lebih tinggi. Memastikan kain kaku itu menyembunyikan tanda merah di bahunya. Bekas pembersihan Arya kemarin. "Sari! Berhenti!"Suara itu membuat Sari membeku sesaat. Andra berlari kecil menghampirinya, wajahnya tampak kuyu seolah tidak tidur semalaman. Matanya memindai wajah Sari dengan kecemasan yang begitu tulus, sebuah kontras yang menyakitkan dibandingkan tatapan predator yang ia terima kemarin sore."Sari, syukurlah kamu datang. Aku menunggumu dari tadi," ucap Andra dengan napas terengah. "Apa yang terjadi kemarin? Setelah kamu masuk ke ruangan Pak Arya, kamu tidak bisa dihubungi. Apa dia... apa dia melakukan sesuatu?"Sari mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Suara Arya bergema di kepalanya seperti mantra terkutuk." Jangan pernah bicara padanya lagi". Ia bisa merasakan tatapan ta
Bunyi klik dari kunci otomatis di meja kerja Arya bergema seperti suara vonis mati di telinga. Sari tersentak, bahunya merosot saat menyadari bahwa ia hanya berdua saja dengan Arya di sini.Ruangan ini tidak lagi terasa seperti kantor dosen yang terhormat. Baginya, ini adalah sebuah altar pengorbanan di mana ia adalah korbannya.Arya tidak duduk. Ia berdiri mematung di depan jendela besar, membelakangi pintu, menatap siluet gedung-gedung kampus yang mulai memanjang tertimpa cahaya senja. Keheningan yang menyelimuti mereka begitu pekat, hingga detak jantung Sari yang berpacu liar terasa memekakkan telinga."Mendekatlah," suara Arya terdengar dingin, mengiris kesunyian tanpa menoleh sedikit pun.Sari melangkah dengan kaki yang terasa seberat timah. Setiap jengkal ia mendekat, aura intimidasi dari pria itu semakin mencekik oksigen di sekitarnya.Arya berbalik perlahan, matanya yang gelap langsung terkunci pada kedua bahu Sari. Titik di mana
"Saya mengumumkan bahwa asisten riset utama untuk proyek jurnal internasional semester ini adalah Sari."Suara bariton Arya Pratama bergema di ruang seminar yang sunyi, memotong keheningan dengan otoritas yang tak terbantahkan. Ia berdiri di balik podium dengan kemeja abu-abu gelap yang lengannya digulung hingga siku, memancarkan aura intelek sekaligus dominasi yang membuat seisi kelas terpukau."Sari adalah mahasiswi dengan dedikasi tinggi. Mulai hari ini, ia akan bekerja langsung di bawah pengawasan saya untuk memastikan proyek ini selesai tepat waktu."Tepuk tangan riuh pecah dari teman-teman sekelasnya. Beberapa mahasiswi menatap Sari dengan iri, membayangkan betapa beruntungnya bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama dosen idola kampus itu.Namun, bagi Sari, pengumuman itu adalah vonis mati bagi kebebasannya. Ia hanya bisa menunduk, meremas jemarinya di bawah meja hingga buku-bukunya memutih.Di balik senyum profesional Arya, Sari
Langkah kaki Sari terasa berat saat mengikuti punggung tegap Arya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kayu besar itu tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus, Sari merasa seolah dunia luar baru saja terputus darinya.Rumah itu luas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Minimalis, tanpa banyak
Langkah kaki Sari terasa berat, seolah setiap jengkal aspal yang ia injak menempelkan beban berton-ton di pundaknya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang mulai remang, tidak memedulikan tatapan orang-orang pada siku tangannya yang masih memerah dengan sisa darah kering.Pikirannya kosong, hanya ada b
Arya turun dari mobilnya. Suara pintu mobil yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Sari.Dari posisi tersungkur di aspal, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilat sempurna melangkah mendekat.Perlahan, bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mulai menutupi tubuh
Bunyi mesin ATM yang menderu pelan di pojokan minimarket terdengar seperti lonceng kematian bagi Sari. Ia menahan napas saat angka-angka di layar buram itu muncul.Rp30.150,-Lutut Sari terasa lemas seketika. Perutnya yang sedari pagi hanya diisi gorengan dingin sisa semalam mendadak melilit perih.







