تسجيل الدخولBunyi klik dari kunci otomatis di meja kerja Arya bergema seperti suara vonis mati di telinga. Sari tersentak, bahunya merosot saat menyadari bahwa ia hanya berdua saja dengan Arya di sini.
Ruangan ini tidak lagi terasa seperti kantor dosen yang terhormat. Baginya, ini adalah sebuah altar pengorbanan di mana ia adalah korbannya.Arya tidak duduk. Ia berdiri mematung di depan jendela besar, membelakangi pintu, menatap siluet gedung-gedung kampus yang mulai memanjang tertimpaGenggaman tangan Arya tidak ia lepaskan hingga mereka sampai di rumah. Jemari panjang pria itu masih bertaut erat pada jemari Sari bahkan saat mereka berjalan menuju kamar. Melewati keheningan rumah yang kini tidak lagi terasa mencekik, melainkan tenang dan privat."Mas... mau mandi duluan?" tanya Sari lirih saat mereka sudah berada di dalam kamar.Arya menoleh, menatap Sari dengan tatapan yang sulit diartikan namun terasa sangat lembut. "Bersama saja. Biar lebih cepat, setelah itu kita makan malam."Tidak ada perintah yang dingin, tidak ada paksaan yang mengintimidasi. Di bawah guyuran air hangat, suasana terasa jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya.Jika dulu air yang mengalir terasa seperti saksi bisu ketakutan Sari, kini air itu seolah membasuh sisa-sisa ketegangan mereka."Rambutmu sudah terlalu panjang, Sari," gumam Arya sambil membantu membasuhkan sampo ke rambut gadis itu. Gerakannya sangat hati-hati, jemarinya memijat kulit ke
Sari mengerjapkan mata saat cahaya matahari pagi yang lembut menusuk kelopak matanya.Ia bergerak sedikit, dan seketika rasa kaku di sekujur tubuhnya mengingatkannya pada penyerahan diri yang ia lakukan semalam.Saat ia menarik selimut lebih tinggi, ia bisa melihat pantulan dirinya di cermin besar di sudut kamar. Di balik helai kain sutra itu, bahu, dan dadanya penuh dengan tanda merah. jejak-jejak kepemilikan yang ditinggalkan Arya dengan begitu intens."Sudah bangun?" tanya Arya. Suaranya rendah, tidak ada nada dingin yang menusuk seperti hari-hari sebelumnya.Ia menoleh dan mendapati Arya sudah berdiri di sisi ranjang. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih bersih yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang kuat dan jam tangan mewah yang selalu melingkar di sana.Arya tidak menatapnya dengan kemarahan atau kecurigaan. Pria itu justru berdiri diam, memperhatikan wajah Sari yang baru terbangun dengan tat
"Puas, Mas? Apa Mas puas melihatku dihina satu kampus tadi?"Suara Sari bergetar hebat saat mereka baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah rumah mewah itu. Sari tidak lagi menunduk. Ia menatap lurus ke mata tajam Arya, mengabaikan rasa takut yang biasanya melumpuhkan sendi-sendinya. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.Arya tidak langsung menjawab. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja marmer dengan denting yang dingin, lalu melepaskan jam tangannya dengan gerakan yang sangat lambat."Kau bicara soal apa, Sari? Soal gosip mahasiswa yang tidak punya kerjaan itu?""Mas sengaja membiarkan mereka melihat kita keluar dari mobil yang sama! Mas sengaja merangkulku di depan Andra agar semua orang berpikir aku adalah wanita murahan!" Sari berteriak, suaranya pecah di tengah kesunyian rumah yang megah itu. "Dan di kelas tadi... Mas terus-menerus memojokkan Andra. Dia tidak salah apa-apa, Mas! Kenapa Mas begitu kejam padanya?"
Langkah kaki Andra terhenti tepat dua meter di depan mobil mewah Arya. Napasnya memburu, matanya memerah menatap tangan Arya yang masih melingkar posesif di pinggang Sari.Di sekeliling mereka, waktu seolah melambat. Mahasiswa yang berlalu-lalang mulai memperlambat langkah, bisik-bisik tajam mulai mengudara seperti polusi yang menyesakkan."Sari... apa maksud semua ini?" suara Andra bergetar, antara amarah dan luka yang dalam. "Kenapa kamu keluar dari mobilnya? Kenapa kamu bersama dia?"Sari merasakan remasan Arya di pinggangnya menguat. Sebuah peringatan bisu yang dingin. Ia mendongak sejenak, melihat rahang tegas Arya dan tatapan matanya yang seolah sedang menonton sebuah pertunjukan komedi membosankan.Sari tahu, jika ia tidak bicara sekarang, nasib Andra akan berakhir di tangan pria ini.Sari menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk menghancurkan hati pria yang selalu tulus padanya."Andra, berhenti mengga
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden blackout di kamar utama, memantul pada seprai sutra yang berantakan.Sari terbangun dengan perasaan yang asing. Ada ketenangan yang sempat singgah, sisa-sisa kelembutan Arya di bawah guyuran air semalam yang masih membekas di ingatannya.Namun, ketenangan itu menguap saat ia menyadari sisi tempat tidur di sampingnya sudah dingin.Ia menoleh ke arah balkon. Di sana, Arya Pratama sudah berdiri tegak, membelakangi kamar. Kemeja hitam elegannya melekat sempurna di tubuh tegapnya, lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.Ia sedang menyesap kopi hitam sambil membaca tumpukan berkas riset, tampak seperti potret pria sukses yang tidak tersentuh noda apa pun."Sudah bangun?" suara bariton Arya terdengar tanpa ia perlu berbalik.Sari tersentak, segera menarik selimut menutupi dadanya. "I-iya, Mas.""Ber
Suara deru mesin mobil yang mati seketika meninggalkan kesunyian yang mencekik saat mereka tiba di rumah. Sari melangkah keluar dengan bahu yang merosot, matanya sejenak memperhatikan bangunan mewah yang kini menjadi penjara emasnya.Begitu pintu depan terkunci otomatis di belakang mereka, atmosfer berubah. Di kampus, Arya adalah dinding beton yang dingin. Di sini, ia adalah api yang siap melalap apa saja.Setelah masuk ke dalam kamar. Arya melepas jas abu-abunya, menyampirkannya di sofa dengan gerakan yang sangat tenang. Ketenangan yang justru membuat bulu kuduk Sari meremang.Pria itu melonggarkan dasinya, lalu menoleh pada Sari yang masih mematung di dekat pintu kamar mereka."Hari ini sangat melelahkan, bukan?" suara Arya rendah, bergema di ruangan yang kedap suara itu. Ia melangkah mendekat, memperkecil jarak hingga Sari bisa mencium aroma sandalwood yang bercampur dengan ketegangan. "Riset, kelas seminar, dan... drama di lorong tadi. Tubuhku
Langkah kaki Sari yang tergesa menghantam aspal gerbang fakultas dengan irama yang kacau, persis seperti detak jantungnya. Ia menarik kerah kemejanya lebih tinggi. Memastikan kain kaku itu menyembunyikan tanda merah di bahunya. Bekas pembersihan Arya kemarin. "Sari! Berhenti!"
"Saya mengumumkan bahwa asisten riset utama untuk proyek jurnal internasional semester ini adalah Sari."Suara bariton Arya Pratama bergema di ruang seminar yang sunyi, memotong keheningan dengan otoritas yang tak terbantahkan. Ia berdiri di balik podium dengan kemeja abu-abu gelap yang
Suara derit kursi yang bergeser karena dorongan tubuh Arya terdengar seperti suara guntur di telinga Sari.Ruang kelas itu kini terasa sangat sempit, seolah-olah oksigen telah habis diisap oleh ketegangan seksual yang meledak-ledak di antara mereka.Punggung Sari terhimpit meja
Cahaya matahari pagi yang menyelinap di sela-sela gorden sutra kamar itu terasa seperti sembilu yang menyayat mata Sari.Ia terbangun dalam dekapan dingin hembusan AC yang masih menderu, namun sekujur tubuhnya terasa terbakar oleh rasa malu yang hebat.Sari menarik selimut abu-a







