"Jangan mengada-ada, Nek!" potong Rayan dengan suara berat yang menekan, dadanya kembang-kempis menahan amarah yang hampir pecah. "Jangan hanya karena Nenek membenci Mama saya, lalu Nenek seenaknya memfitnah beliau! Mama sudah meninggal dan tak bisa membela dirinya sendiri. Tapi saya yang akan membelanya. Tak mungkin Mama berselingkuh!" Wina terkekeh rendah—sebuah kekehan dingin yang penuh cemooh. "Ya ... itu karena kamu tidak tahu cerita yang sebenarnya, Rayan," sahut Wina santai, menatap Rayan dengan pendar kemenangan di matanya. Perkataan Wina yang meluncur begitu tenang sukses membuat perasaan Rayan berkecamuk hebat. Kegelisahan dan kecurigaan perlahan merambat, menyelinap masuk meracuni benaknya. Melihat raut rahang Rayan yang mengeras dan keheningan yang tercipta, perasaan Wina makin melonjak senang. Racun manipulasi yang ditaburkannya mulai bekerja. Namun, di atas sofa, Ayla yang sudah sangat lelah hanya menyandarkan tubuhnya secara tenang. Dia tak begitu ambil pusing
Last Updated : 2026-08-04 Read more