Bastian menghela napas panjang, menatap Fariska yang masih mematung di sampingnya. Pria itu menyentuh lembut pundak sang istri, berusaha meredakan kepanikan yang kian liar di kepala Fariska. "Riska, tenang dulu," bisik Bastian parau. Tangannya meremas pelan bahu wanita itu. "Kita tidak bisa langsung menyimpulkan yang buruk. Zia sudah dewasa, dan bagaimanapun Rendra itu suaminya sekarang. Kita tidak bisa terus mencampuri urusan ranjang atau dinamika rumah tangga mereka kalau Zia sendiri sudah menyatakan dirinya baik-baik saja.""Tapi Zia itu putriku, Mas!" sanggah Fariska dengan mata berkaca-kaca. "Kemarin dia menangis histeris ketakutan, sekarang mendadak manis dan membela Rendra mati-matian. Kamu tidak merasa ada yang janggal? Bagaimana kalau anak kita dipaksa pura-pura bahagia di bawah ancaman?""Kalau Rendra mengancamnya, suara Zia tidak akan terdengar seringan tadi," potong Bastian tegas namun bernada lelah. "Sekarang fokus kita terbagi, Riska. Urusan Zia biar berjalan dulu. Ada
Last Updated : 2026-09-01 Read more