"Zia?" Ayla mengerjapkan mata, seolah tak percaya dengan sosok yang kini menghalangi jalannya. Jantung Ayla berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa muak yang sudah sampai di ubun-ubun. Dia sudah sangat malas untuk sekadar menatap wajah wanita itu, tapi semesta seolah sedang mempermainkannya dengan terus mempertemukan mereka. Zia tersenyum miring, matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan Ayla. "Aku habis periksa kandungan," jawab Ayla singkat, berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar datar. Zia melirik tajam ke arah perut Ayla yang tampak menonjol di balik pakaian longgarnya. Dia mendengus remeh. "Oh... sudah berapa bulan? Kasihan kamu, Ayla," cibir Zia dengan nada merendahkan. Ayla mendengus, sorot matanya kini menatap Zia dengan keberanian yang tak pernah Zia lihat sebelumnya. "Kasihan kenapa? Sekarang aku sudah bahagia, Zia. Dan sebentar lagi, hidupku akan jauh lebih bahagia dengan kehadirannya." "Bahagia?" Zia tertawa kecil, suara tawanya ter
Last Updated : 2026-07-16 Read more