“Lihat pasukanmu itu, Kapten Arman,” ujar seorang instruktur muda berpangkat letnan dua sambil tertawa kecil. “Baru beberapa kilometer saja sudah seperti terong layu.”Kapten Arman, komandan tempat Raka dan para mahasiswa baru lainnya ditempatkan selama pelatihan. Usianya sekitar tiga puluhan, kulitnya gelap terbakar matahari, sementara tatapannya tajam seperti orang yang sudah terlalu lama hidup di lingkungan militer.Arman mendecakkan lidah pelan. “Kau bicara seolah pasukanmu lebih bagus,” balasnya datar. “Anak-anak zaman sekarang memang terlalu dimanjakan.”Ia menatap lintasan panjang di depan dengan sorot mata dingin. “Makan enak, tidur nyaman, hidup terlalu aman. Wajar kalau fisik mereka lembek.”Instruktur lain ikut tertawa kecil.“Bunga rumah kaca memang begitu,” katanya sambil melipat tangan di dada. “Kalau tidak kena badai, mereka tidak akan pernah tumbuh.”“Dulu waktu pelatihan rekrutmen, lari lintas medan sepuluh kilometer sambil bawa beban dua puluh kilogram itu baru peman
Read more