Langit sore di atas Akademi Tempur Garuda tertutup awan kelabu pekat. Gumpalan mendung menggantung rendah, seolah menekan seluruh kompleks akademi dengan beban tak kasatmata.Di plaza utama, ribuan peserta berdiri dalam barisan panjang menghadap panggung ujian raksasa. Layar hologram, menara sensor, drone pengawas, dan kristal pengukur Etherion berjejer seperti altar masa depan.Di tempat itu, nasib ditentukan.Siapa yang lulus akan memperoleh kekuasaan, uang, status, dan jalan menjadi kultivator militer. Dan bagi mereka yang gagal, akan kembali menjadi rakyat biasa, hidup di bawah kaki mereka yang kuat.Di tengah lautan manusia itu, seorang pemuda berdiri tenang dengan seragam lusuh yang warnanya mulai pudar.Raka Mahendra, putra sulung keluarga Mahendra. Dua puluh tahun yang lalu, nama Mahendra membuat banyak orang menunduk. Sekarang, nama itu hanya mengundang tawa. Nama besar yang pernah mengguncang dunia bisnis dan militer, sebelum hancur dalam satu malam dan dicap sebagai keluarg
Read more