"Pak Husen! Jaga itu mulut! Ingat anak-istri di rumah!" semprot Mbok Carmen sambil menggeplak lengan Pak Husen gemas.Yang digeplak cuma nyengir tanpa dosa.Setelah memelototi Pak Husen, Mbok Carmen kembali beralih menatapku. "Gus, kalau Bu Miya lagi dapet dan baru hari pertama, jangan dikasih pembalut yang biasa. Beliin yang extra panjang sekalian yang bersayap.”“O-oke, Mbok. Makasih sarannya.”"Nah, sekalian ini, Mbok bonusin jamu kunyit asam satu botol, gratis buat majikanmu. Biar luntur semua nyeri perutnya!""M-makasih, Mbok. Tapi saya bayar aja jamunya," kataku sungkan, buru-buru mengeluarkan dompet.Saat aku hendak melangkah pergi, Pak Kai tiba-tiba menahanku. "Oh ya, Gus. Nanti agak sorean mampir ke rumah ya. Saya mau atur ulang jadwal ronda sekalian kamu pengenalan sama warga lain, kan kamu masih baru di sini. Biar kita makin akrab!""Siap, Pak. Kalau begitu saya pamit duluan, Pak, Mbok, Bu," ujarku sembari
Ler mais