Novaria hanya diam. Dia tidak meringis ataupun marah. Selama seminggu aku di sini, dia memang yang paling tertutup. Jarang berinteraksi dengan kakak-kakaknya, apalagi dengan ibu tirinya. Waktunya lebih banyak habis di dalam kamar setelah pulang kuliah.Nova menatapku dengan mata bulat yang jernih, sementara tangannya masih refleks menutupi bagian dada yang baru saja terbentur lenganku. Sebelum dia berpikir macam-macam, aku langsung mengklarifikasi."Maafin Mas ya, Dek. Sumpah, Mas nggak sengaja. Nggak tahu kalau kamu di belakang. Tadi Mas baru beres cuci piring terus dengar suara ribut, jadi refleks ke sini," ucapku cepat.Nova hanya mengangguk pelan. Tatapannya sulit dibaca, membuatku makin salah tingkah.Tiba-tiba, Paman Karyo muncul. Wajahnya masih merah padam dengan urat leher yang menonjol. Dia tampak terkejut melihat kami berdiri berhimpitan di lorong."Loh, kalian di sini?" tanya Paman Karyo sambil mengusap wajah, berusaha meredam emosi sisa pertengkaran tadi."Iya, Paman. Ini
آخر تحديث : 2026-05-08 اقرأ المزيد