Malam kembali datang, membawa Bintang melangkah ke dalam wilayah kekuasaan mutlak di paviliun barat. Begitu pintu kamar megah itu tertutup, suasana langsung berubah menjadi pekat dan posesif. Angkasa berdiri di kegelapan, menatap Bintang dengan netra elangnya yang menggelap berbahaya.Sebelum Bintang sempat bersuara, Angkasa melangkah maju, mencengkeram pinggang rampingnya dengan satu sentakan kasar, lalu menyudutkan tubuh wanita itu ke dinding marmer yang dingin."Dengar baik-baik, Bintang," bisik Angkasa, suara baritonnya bergetar rendah tepat di depan bibir Bintang. Hembusan napasnya yang panas terasa begitu mengintimidasi. "Kamu sudah menjadi milikku. Jiwa, raga, dan setiap jengkal kulitmu adalah hak mutlakku. Jadi, jangan pernah bermimpi untuk membiarkan Rendi menyentuhmu seujung kuku pun. Paham?!"Bintang mendongak, menatap mata pria yang telah menjadi pelindung sekaligus pemuas hasrat terlarangnya. Tanpa ragu, ia mengangguk patuh. "Aku tahu, Mas Angkasa. Ditatap oleh Mas Re
Terakhir Diperbarui : 2026-05-22 Baca selengkapnya