LOGIN"Bintang, tunggu! Sayang, dengarkan aku dulu!"Suara bariton Angkasa yang biasa menggema tegas di ruang rapat kini terdengar panik setengah mati. Langkah kakinya yang lebar bergegas menyusul Bintang yang sudah melangkah keluar dari butik dengan kecepatan penuh. Beberapa pelayan dan pengawal yang berjaga di luar langsung menunduk, pura-pura tidak melihat wajah bos besar mereka yang tampak frustrasi.Bintang tidak memedulikan panggilan itu. Ia langsung membuka pintu mobil luks yang menjemput mereka, masuk ke kursi tengah, dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah sedingin es. Suster bayi yang sedang memangku Arka di kursi belakang seketika membeku, merasakan udara mobil yang mendadak drop hingga minus nol derajat.Brak!Angkasa menyusul masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan cepat, dan langsung memberi isyarat kepada sopir. "Jalan. Langsung ke vila.""Baik, Tuan."Mobil pun bergerak membelah jalanan Seminyak menuju Uluwatu. Di dalam kabin mobil yang luas itu, keh
Melihat reaksi pasrah sekaligus ledekan manis dari istrinya, pertahanan sombong Angkasa runtuh seketika. Tawa renyah dan merdu pria itu pecah, menggema hangat memenuhi ruang makan mansion mereka yang megah. Bintang pun tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawa lebar. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Angkasa dengan perasaan cinta.Badai kelam kemarin kini benar-benar telah digantikan oleh kehangatan yang luar biasa. "Jadi, tidak perlu ke atas untuk kemas-kemas lagi, kan?" bisik Angkasa geli, mengecup pelipis Bintang yang masih bersandar nyaman di bahunya.Bintang mendongak, lalu mencubit dagu suaminya pelan. "Iya, Pak CEO. Terserah perintah Bos saja. Tapi awas ya kalau sesampainya di Bali aku tidak menemukan baju yang cocok!""Jangankan baju yang cocok, butiknya sekalian akan aku belikan untukmu kalau kamu mau," sahut Angkasa penuh percaya diri yang langsung dihadiahi tatapan malas namun penuh cinta dari Bintang.Siang harinya, persiapan keberangkatan yang serba
Suasana meja makan pagi itu terasa berkali-kali lipat lebih hidup. Aroma sup ayam ginseng buatan Angkasa memenuhi ruangan, bersanding dengan tawa kecil Bintang yang akhirnya kembali terdengar.Tak lama kemudian, suster bayi datang menggendong Arka yang sudah mandi dan beraroma harum minyak telon. Begitu melihat sang anak, Bintang langsung mengambil alih Arka ke dalam pangkuannya. Bayi mungil berusia dua bulan itu tampak mengerjap-erjap lucu, menatap lumat ke arah Angkasa seolah tahu bahwa pria di depannya adalah pahlawan yang telah menjaga tidurnya tetap aman."Sini, biar aku yang gendong Arka. Kamu habiskan dulu supnya selagi hangat," ucap Angkasa lembut. Tanpa canggung, pria itu mengambil alih Arka dari dekapan Bintang, menimangnya dengan satu tangan yang kokoh sementara tangan lainnya bergerak mengelus pipi gembul putranya.Bintang tersenyum haru menatap pemandangan di depannya. Ketakutan bahwa Angkasa akan berubah seperti Rendi benar-benar terkikis habis tak bersisa."Bagaima
Di tengah tangis Bintang yang tumpah di dadanya, Angkasa mempererat pelukan. Tubuh tegapnya bergetar, menyalurkan rasa takut yang teramat sangat—bukan takut pada ancaman musuh di luar sana, melainkan takut kehilangan kepercayaan wanita yang menjadi separuh jiwanya ini.Angkasa menangkup wajah Bintang dengan kedua tangannya, menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari secara lembut. Sorot matanya begitu mengiba, sarat akan luka ketika menyadari dirinya disamakan dengan pria masa lalu Bintang yang bajingan itu."Aku mohon, Bintang... Jangan pernah samakan aku dengan Rendi," bisik Angkasa, suaranya parau dan bergetar hebat di depan wajah Bintang. "Rendi adalah masa lalumu yang bodoh karena menyia-nyiakan wanita sepertimu. Tapi aku... aku Angkasa Pratama. Aku sangat mencintaimu, Bintang. Hidup dan matiku hanya untukmu dan Arka. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."Bintang menatap kedalaman manik mata suaminya. Tidak ada lagi keraguan di sana. Yang ada hanyal
Mendengar jeritan pilu Bintang dan tuduhan yang menyamakannya dengan Rendi, jantung Angkasa rasanya seperti berhenti berdetak. Pria itu tidak peduli lagi pada harga dirinya sebagai seorang CEO Pratama Grup yang ditakuti. Melihat wanita yang teramat dicintainya menangis histeris dengan tubuh gemetar hebat, pertahanan Angkasa runtuh total.Angkasa melepaskan pelukannya, lalu perlahan merosot hingga kedua lututnya menyentuh lantai dingin—berlutut tepat di hadapan Bintang yang masih terisak di tepi ranjang."Bintang... tatap aku, Sayang. Tolong tatap aku," pinta Angkasa dengan suara parau yang pecah. Air mata frustrasi mengalir melewati rahang kokohnya.Bintang memalingkan wajah, enggan melihat. Namun, Angkasa dengan lembut namun tegas menangkup kedua pipi Bintang, memaksa sepasang mata sembap itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang sarat akan kejujuran dan kerapuhan yang teramat mendalam."Aku bersumpah demi nyawaku, demi Arka yang sedang tidur di sana... tidak pernah ada wa
Angkasa mematung di tempatnya berdiri. Kalimat tenang yang keluar dari bibir Bintang terasa bagai tamparan keras yang tak kasat mata. Pesan singkat yang ia kirimkan empat hari lalu—yang niat awalnya demi melindungi psikologis Bintang agar tidak ikut terbeban dengan ancaman sabotase—kini justru berbalik menjadi senjata yang memotong kedekatan mereka."Bintang, soal pesan itu..." Suara Angkasa tercekat di tenggorokan. Rencana untuk menjelaskan semuanya malam ini mendadak buyar melihat betapa kokohnya dinding pertahanan yang dibangun istrinya."Sudahlah, Mas. Tidak perlu dibahas lagi. Kamu lelah, sebaiknya langsung istirahat. Aku harus menyusui Arka dulu," potong Bintang halus, menyudahi pembicaraan bahkan sebelum Angkasa sempat membela diri.Dengan gerakan anggun, Bintang berjalan membawa Arka menuju sofa menyusui di sudut yang agak remang, memunggungi Angkasa sepenuhnya. Sikap itu begitu rapi, begitu sopan, namun sekaligus menegaskan penolakan mutlak atas kehadiran Angkasa di dalam
Setelah makan malam, Kakek meminta Angkasa untuk menjaga Bintang. "Bintang sudah Kakek anggap sebagai cucu kandung Kakek Angkasa tolong jaga dia baik-baik. Rendi sangat tidak bisa diharapkan." "Pasti Angkasa akan menjaganya Kek, Kakek tenang saja." Sahut Angkasa. Tak selang lama Rendi dan Mama b
Rendi merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menunduk dan melongok ke bawah kolong meja kerja Angkasa.Di bawah sana, Bintang sudah pucat pasi. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Dalam kepanikan yang memuncak, kedua tangannya bergerak refleks memegangi celana bahan yang dikenakan Angkasa, mence
Siang itu, ruang makan mansion keluarga Pratama terasa begitu mencekam. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak lonceng kematian bagi Bintang. Di ujung meja, Angkasa duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi, sementara Rendi duduk di hadapannya dengan
Byur!Suara air yang pecah dengan keras itu membelah keheningan sore di kediaman mewah keluarga Pratama.Di tengah riak air itu, sesosok tubuh berjuang dengan dramatis, tangan-tangannya menggapai udara seolah sedang ditarik ke dasar neraka."Tolong! Tolong aku! Kak Bintang, kenapa... uhuk... tolo







