"Pacar?" Aeron mengulang kata itu dengan kekehan rendah. Tangan kekarnya meremas pinggang wanitanya dengan sengaja, memancing reaksi pria yang berstatus kekasihnya. "Ma-maksudku, belum," jawab Aveline terbata-bata. "Kau! Apa-apaan itu! Lepaskan dia!" bentak Vero dengan wajahnya memerah. "Vero, aku mohon ... pergi dari sini," rintih Aveline menahan sesak di dadanya. Aveline pasrah membenamkan? Me apasi? Lupa lagi, pokok nyembunyiin wajahnya di pelukan Aeron. Aeron mendongak, menatap Vero dengan senyum kemenangan. "Kau dengar sendiri bukan? Wanitamu memintamu pergi, sekarang!" "Lepaskan dia! Kami saling mencintai!" Vero kembali maju, ia hendak mendaratkan pukul kembali. Sebelum tangan Vero menyentuh tubuhnya, jemari hangat Aeron menelusup ke balik pakaian Aveline, menekan tonjolan kecil di dadanya dengan gerakan memutar. "Ngghhh ...." Tubub Aveline melengkung, ia meloloskan desahan tertahan yang memalikan di depan Vero. Air mata Vero menggenang, matanya memerah. I
Read more