LOGIN(Mature Content 21+) “Aku tidak butuh hatimu, Aveline. Aku hanya ingin tubuhmu.” Aveline Valmont, seorang gadis malang yang tidak pernah bisa memilih. Ia terjebak dalam obsesi gila milik Aeron Devere—pengacara iblis yang kejam dan posesif. Seluruh harta bendanya telah dirampas habis tanpa sisa, ibunya meninggal, dan menyisakan dirinya yang harus menukar harga diri demi membebaskan sang ayah dari balik jeruji besi. "Jadilah budakku selama tiga tahun. Maka, ayahmu akan bebas besok pagi." Dan kini, Aveline harus menjadi wanita simpanan yang tinggal di sebuah Paviliun Velaris Crown bersama dengan istri sah Aeron.
View More"Sepuluh miliar, Aveline. Atau saksikan ayahmu membusuk di sel Eldrith besok pagi."
Aeron Devere berdiri membelakangi jendela besar kantor Devere Crown. Cahaya remang kota Eldrith membingkai siluet tubuh tegapnya yang dibalut kemeja hitam mahal. Ia menyesap wiskinya perlahan. Tangannya yang berurat memutar gelas kristal itu hingga es di dalamnya berdenting pelan. Sorot mata tajam Aveline mengarah ke pantulan wajah Aeron di kaca. Napasnya memburu, menahan sesak yang menghimpit jantungnya. "Kau keterlaluan, Aeron! Kau tau hartaku sudah kau sita habis," desis Aveline. Aveline melangkah maju. Lengkuk tubuhnya tampak jelas dari pantulan kaca. Ia berdiri tepat di belakang Aeron dengan kepalan tangan yang mengeras. "Rumahku, mobilku, bahkan perhiasan peninggalan ibuku! Apa lagi yang kau inginkan, iblis?" Aeron membalikkan badan. Ia menatap Aveline datar sambil meletakkan gelasnya di atas meja marmer. "Aku tidak lagi tertarik dengan sisa hartamu." Ia melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Aveline terdesak ke tepian meja. Aeron merunduk sedikit, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Lalu apa? Kau ingin nyawaku?" Dulu, Valmont adalah penguasa bisnis di Eldrith. Kini, di bawah firma Devere Crown, Aveline hanya memiliki harga diri yang tersisa. Aeron mengulas senyum sinis. Jemarinya terangkat, mencengkeram rahang Aveline hingga gadis itu mendongak paksa. "Aku hanya ingin tubuhmu. Jadilah milikku selama tiga tahun." Aveline tersentak. Ia segera menepis tangan kasar pria itu dengan sisa tenaganya. "Aku bukan pelacur yang bisa kau beli dengan ancaman, Aeron!" Aeron meraih dokumen resmi dari meja dan melemparkannya tepat di wajah Aveline. "Ini bukan tawaran, tapi perintah hukum yang sah!" Aveline mengerjap, lalu membaca isi dokumen. Matanya membelalak, pada poin penyerahan diri secara total. "Ini manipulasi! Kau menggunakan hukum untuk menjeratku!" Aeron merapikan letak jam tangannya dengan tenang. Ia tidak terpengaruh sedikit pun oleh ledakan emosi Aveline. "Pilihannya tetap sama, Aveline. Kamu di ranjangku, atau ayahmu mati di penjara." Aveline mengepalkan tangan, ia ingin sekali meninju pria tinggi di depannya. Ia menatap kosong lantai marmer yang dingin. Desir darahnya meluap penuh kebencian. "Kenapa kau begitu membenciku?" tanya Aveline lirih. Aeron menarik pinggang Aveline hingga tubuh mereka merapat tanpa celah. Ia bisa merasakan detak jantung Aveline yang liar karena takut. "Aku butuh hiburan, dan bisa terwujud dengan tubuhmu." Pria itu melepaskan dekapannya dengan sentakan kasar. Ia meraih kembali gelas wiskinya dan menghabiskan isinya dalam satu tegukan besar. "Malam ini, datanglah ke penthouse Velaris Crown." Jari telunjuk Aeron mengarah ke kunci emas di atas meja. "Jangan buat aku harus menyeretmu dalam keadaan telanjang." Brak! Pintu dibanting keras. Aveline berdiri mematung sendirian di ruangan yang kini terasa sangat luas dan hampa. "Argh! Orang gila!" teriak Aveline sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Tangannya meremas kuat kunci akses emas di atas meja hingga telapak tangannya perih "Nikmati kemenanganmu malam ini, Aeron Devere!" Aveline menyandarkan tubuhnya di balik pintu, membiarkan tubuhnya merosot perlahan. Sorot matanya memerah, air matanya menggenang. "Aku benci dia!" pekiknya sambil meneteskan air mata Sementara di dalam mobil, Aeron memantau melalui cctv, ia tersenyum puas melihat Aveline tersiksa. "Aku tidak sabar menunggunya di penthouse. "Tuan, Nyonya Velaris menyuruh Tuan segera kembali ke paviliun. Tuan Muda demam tinggi." Rolan menatap Aeron dari kaca spion mobil. Senyum di wajah Aeron seketika lenyap, digantikan oleh gurat kecemasan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Ia segera mematikan layar tablet yang menampilkan wajah Aveline. "Putar balik sekarang!" Aeron melirik cincin pernikahan yang ia sembunyikan di dalam saku jasnya. Di mata publik Kota Eldrith, ia adalah pengacara lajang yang dingin dan tak tersentuh. "Kabari Vela," bisik Aeron pada asistennya. "Katakan pada wanita itu untuk tetap menunggu di sana sampai aku datang. Berapa pun lamanya." Mobil Aeron melenggang pergi dengan cepat, meninggalkan, Aveline yang kini melangkah masuk ke dalam lobi mewah yang sudah disiapkan Aeron, tanpa tahu bahwa pria yang ia benci sedang memeluk seorang anak di tempat lain. Saat ia membuka pintu penthouse dan menemukan pakaian transparan yang sudah disiapkan Aeron, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Aeron : Aku akan terlambat. Tunggu di atas ranjang."Dengar rekaman ini, Tuan." Rolan meletakkan ponselnya di atas meja nakas, memutar rekaman singkat tentang rencana pembobolan brankas mansion. Suara di dalamnya terdengar samar, namun cukup untuk mengidentifikasi ancaman nyata bagi aset keluarga Devere. Aeron mendengarkan dengan rahang mengeras, sementara Aveline di ranjang sebelah hanya bisa terdiam menahan sesak. Setelah rekaman berakhir, Aeron menatap Aveline dengan sorot mata yang melunak. "Rumah sakit ini nggak aman. Kita harus pindah ke mansion malam ini juga," ucap Aeron. Aveline memalingkan wajah, menatap Valmont yang sedang tertidur di kursi tunggu. "Aku mau ikut, tapi Ayah harus ikut juga. Rumahku udah disita bank, Ayah nggak ada tempat tinggal." Aeron mendengus kasar. "Kalau aku nolak gimana?" "Kalau gitu aku juga nggak akan ikut," sahut Aveline tegas. "Kamu bisa pilih, bawa kami berdua atau biarkan aku di sini dengan risikonya." Rolan berdeham pelan, memecah ketegangan. "Maaf, Tuan, tapi kalian baru saja
"Rolan..." panggil Aeron dengan suara yang sangat serak dan habis. "Saya di sini, Tuan," sahut Rolan sembari mendorong pintu kaca tanpa menimbulkan suara berisik. Aeron mencoba menegakkan punggung, tapi ringisan pendek lolos dari bibirnya saat perban di perutnya menegang. "Aveline... gimana dia? Bibinya masih bikin ribut?" "Nona Aveline aman di kamar sebelah, Tuan. Dua pengawal sudah berjaga di depan pintu," jawab Rolan tenang sembari menyodorkan secangkir air hangat. Aeron meneguk air itu cepat-cepat untuk membasahi tenggorokannya yang sekering gurun. "Terus keparat yang nyerang kami malam itu? Tim kita udah nemu orangnya?" "Belum ada info baru, Tuan. Orang itu tahu banget titik buta semua kamera pengawas di laboratorium," lapor Rolan. Aeron mendengus miring, sepasang matanya yang merah menatap tajam ke arah langit-langit plafon. "Dia bukan orang luar, Rolan. Gerakannya terlalu bersih buat uku
"Kita harus pergi dari sini sekarang."Rolan memasukkan kembali pecahan perangkat perak yang sudah hancur itu ke dalam saku jasnya, lalu melangkah mendekati istri Aeron.Vela tidak bergeming dari tempatnya berdiri, kedua lututnya tampak lemas hingga tubuhnya perlahan merosot ke atas lantai semen yang dingin. Sepasang matanya menatap kosong ke arah ponselnya yang layarnya kini retak akibat terlempar tadi."Buktiknya... benar-benar tidak bisa diselamatkan, Rolan?" tanya Vela, suaranya parau berbaur dengan isak tangis yang mulai tertahan di tenggorokan."Komponen utamanya tergilas roda rantai generator, Nona. Air limbah di bawah sana juga sudah merendam papan sirkuitnya hingga korsleting," jawab Rolan sembari membungkuk untuk memungut ponsel milik Vela.Dia menyeka permukaan layar ponsel yang kotor itu menggunakan saputangan kain putih miliknya sebelum menyerahkannya kembali. "Kita tidak punya waktu lagi untuk meratapi benda ini, t
"Urus pemilik mobil itu sekarang." Suara Rolan mengalun rendah ke dalam mikrofon ponselnya.Sudut bibirnya mendatar tanpa riak, sementara jemarinya bergerak lincah membersihkan folder pesan masuk yang baru saja ia baca dari nomor tidak dikenal tadi. "Baik, Sir. Segera kami eksekusi sebelum faksi Vela mencium pergerakan ini," sahut sebuah suara bariton di ujung telepon sebelum sambungan terputus. Rolan mengantongi kembali gawai hitamnya tepat saat pintu lift berdenting terbuka di area basemen rumah sakit. Hawa dingin langsung menyergap permukaan kulit lehernya, membawa aroma khas semen basah dan oli mesin yang menguar dari sudut-sudut parkiran.Di atas kepalanya, deretan lampu tabung neon berkedip sesekali, memantulkan bayangan tubuh tegap sekretaris itu di atas kap mobil sedan yang berdebu."Semoga dengan ini semua, gajiku naik." Dia membuka pintu kemudi, lalu mendudukkan diri di atas jok kulit hitam yang t
"Tahan tubuhnya! Jahitannya bisa lepas semua!"Suara lengkingan histeris dari ruang isolasi membuat lorong lantai lima kembali mencekam. Pekikan perawat itu disusul suara benda logam yang terseret kasar di atas pualam.Pintu kayu ruang isolasi terbuka lebar dari dalam,
"Masuk, Nona. Jangan membuat Nyonya Vela menunggu lebih lama," ucap pria berjas abu-abu yang turun dari kursi kemudi. Aveline menarik napas panjang, menahan rasa ngilu yang menyerang perut kanannya. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia bangkit dari kursi roda dan melangkah masuk ke dalam kabin m
"Aveline, sini!" Aveline yang masih berdiri mematung di samping pintu gading besar, mencoba keras menahan gemetar di kedua kakinya. Pria dengan balutan kain kasa di tubuhnya itu melangkah mendekat. Aveline hanya bisa menunduk, menatap bayangan besar Aeron yang perlahan mengikis jarak di antara
"Cih, kau gila ya! Lepaskan!" Mereka terengah-engah mencuri udara disela-sela aktivitasnya. Pria bertopeng itu mendengus sinis, sama sekali tidak berniat menghentikan pergerakannya. Jemarinya yang kasar justru semakin sengaja menekan titik sensitif Aveline, mengabaikan seluruh penolakan yang kel
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.