"Ah! Aeron ... pelan ... nnh!"Desahan Aveline pecah di udara kamar yang pengap. Suaranya serak, tenggelam di antara derit ranjang tua penginapan Sagitarius."Diamlah, Aveline. Kau sendiri yang memintanya," bisik Aeron parau.Aeron memacu gairahnya dengan kasar, seolah ingin menghancurkan sekaligus menyatukan kepingan jiwa Aveline. Keringat mereka bercampur, menciptakan aroma maskulin dan feminin yang memabukkan di atas sprei apek."Aku benci kau, Aeron! Sangat benci!" rintih Aveline sambil mencengkeram bahu tegap pria itu."Bencilah aku sesukamu, tapi jangan lepaskan pelukanmu," balas Aeron gelap.Pria itu membenamkan wajahnya di ceruk leher Aveline, menghisap aroma tubuh gadis itu dengan rakus. Puncak kenikmatan membawa mereka meledak dalam kilatan cahaya putih yang menyilaukan.Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kusam, menusuk mata Aveline. Ia mengerang pelan, merasakan kepalanya berdenyut seperti dihantam palu godam."Sial, kepalaku mau pecah," gumam Avelin
최신 업데이트 : 2026-05-15 더 보기