"Maaf, Pak... dari siang Ibu terus mengurung diri di dalam kamar atas. Kayaknya... kayaknya Ibu menangis di dalam. Saya bingung harus bagaimana.’’‘’Saya sudah coba ketuk pintu dan bujuk Ibu buat makan buah atau minum susu, tapi Ibu terus menolak dengan suara parau, Pak," jelas Mbak Tika panik, takut disalahkan atas kondisi majikannya."Ya harusnya kamu tetep telepon saya dong! Urusan kandungan istri saya itu sensitif, Mbak!" seru Arga frustrasi."Maaf sekali, Pak... tadi Bu Nayra benar-benar melarang saya untuk menghubungi Bapak. Ibu bilang, jangan ganggu pekerjaan Pak Arga yang lagi sibuk di luar," cicit Mbak Tika menunduk.Arga tertegun, kata-kata terakhir Mbak Tika bagai tamparan keras yang menghantam kesadarannya. ‘Jangan ganggu pekerjaan yang lagi sibuk?’Arga menghela napas kasar, meraup wajahnya dengan telapak tangan demi meredam gejolak panik di dadanya. Tanpa membuang waktu lagi, ia melangkah lebar menaiki anak tangga satu per satu dengan terburu-buru.Cklek!Pintu kamar ut
Baca selengkapnya