Namun, alih-alih menjawab atau setidaknya menatap wajah cemas suaminya, Nayra justru memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia dengan sengaja mengabaikan eksistensi Arga yang kini berdiri mematung di dekatnya. Sepasang matanya yang sembap dan memerah karena terlalu banyak menangis tetap menatap lurus ke arah mata teduh Mbak Ayu."Makasih banyak ya, Mbak... udah mau dengerin cerita aku, udah mau dengerin keluh kesah aku siang ini," kata Nayra dengan suara yang teramat parau, sarat akan luka yang tak kasatmata namun terasa begitu pekat di udara.Mbak Ayu tersenyum sangat lembut, mengusap punggung tangan Nayra dengan gerakan keibuan yang menenangkan. "Nggak apa-apa, Nay. Sama sekali nggak apa-apa. Kalau nanti kamu butuh apa-apa, atau sekadar butuh teman bicara, kamu langsung telepon Mbak saja ya. Kapan pun itu, jangan pernah merasa sungkan," balas Mbak Ayu, nadanya terdengar begitu tulus tanpa ada niat menghakimi sedikit pun.Nayra mengangguk pelan, setitik air mata kembali jatuh melewati
더 보기