Sepasang cakar hitam pekat milik Adrian Voss perlahan-lahan mulai menyusut kembali menjadi jemari tangan manusia biasa yang dipenuhi gumpalan urat menegang. Di atas tumpukan puing-puing beton laboratorium Level Omega yang hancur lebur, sang miliarder Arvendale itu mengulas sebilah senyuman tipis yang sangat sulit diartikan.Bibirnya yang ternoda sisa cairan darah hitam bergerak pelan, meloloskan rangkaian kalimat kata yang langsung memecah bisingnya suara gemuruh kobaran api di sekeliling mereka. Keangkuhan yang semula memancar kuat dari balik wibawa wajah tegapnya, kini mendadak memudar, digantikan oleh sorot mata yang teramat dingin."Sejak awal... aku sama sekali tidak pernah memiliki niat manusiawi untuk memenangkan pertarungan fisik berdarah malam ini melawanmu, Kael Donovan," ujar Adrian Voss pelan."Satu-satunya hal taktis yang paling kubutuhkan hanyalah memastikan bahwa kapasitas sel darah murnimu saat ini sudah tumbuh cukup kuat untuk bisa menemuinya," lanjut Adrian.Kael Dono
اقرأ المزيد