"Kau bukan Adrian, bukan? Jantungmu... detak jantungmu tidak beraturan, dan suaramu, suaramu terlalu berat untuk menjadi miliknya," bisik Elena, suaranya parau oleh sisa-sisa orgasme dan ketakutan yang kini mulai mencengkeram dadanya.Kael membeku, tangannya yang tadi mengusap bahu Elena kini terasa kaku seperti patung es. Ia tahu ia tidak boleh berbohong, namun kebenaran adalah racun yang akan menghancurkan kedamaian semu ini."Elena, dengarkan aku. Berhentilah berpikir dan kembalilah tidur, ini masih tengah malam," desis Kael, mencoba menekan aura predatornya yang justru semakin meluap karena kedekatan fisik mereka."Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan! Siapa kau sebenarnya? Mengapa Adrian membiarkanmu—kenapa dia membiarkanku berada di ranjang ini bersamamu?!" tuntut Elena, ia mencoba menjauhkan diri, namun Kael justru menariknya kembali ke dalam pelukan."Aku adalah pelindungmu, wanita bodoh. Aku adalah satu-satunya orang yang tidak akan membiarkan Adrian menyentuhmu dengan tanga
Read more