"Bu Amara, Pak Arka sudah menunggu hampir satu jam," ujar sekretaris pelan sambil berdiri di depan pintu ruang kerja, wajahnya tampak ragu dan kedua tangannya saling menggenggam.Amara tetap menatap layar laptop tanpa mengangkat kepala. Jemarinya terus bergerak membuka laporan demi laporan, seolah pekerjaan menjadi satu-satunya tempat untuk melarikan diri dari isi hatinya yang mulai kacau."Katakan aku masih rapat," jawab Amara datar sambil menarik napas pelan, ekspresinya dipaksa tetap tenang."Tapi, Bu..." ujar sekretaris lirih sambil menggigit bibir bawahnya, matanya menunjukkan rasa tidak enak. "Bapak bilang hanya ingin memastikan keadaan Ibu."Amara akhirnya mengangkat wajah."Katakan saja aku sibuk," ucap Amara lebih tegas sambil menutup map di hadapannya, sorot matanya berusaha terlihat dingin.Sekretaris hanya mengangguk pelan sebelum keluar dari ruangan.Di luar kantor, Arka berdiri memandang langit yang mulai gelap. Setelah mendengar jawaban dari sekretaris, Arka hanya terse
続きを読む