"Junior... buka pintunya, Nak," ujar Amara lirih sambil mengetuk pintu kamar perlahan, dahinya menempel di daun pintu dan air matanya kembali mengalir.Tidak ada jawaban.Suasana rumah berubah begitu sunyi. Pintu kamar Junior tetap tertutup rapat. Bahkan suara langkah kaki dari dalam pun tidak terdengar. Arka berdiri beberapa meter di belakang Amara. Wajahnya pucat. Tangannya mengepal, tetapi ia tidak berani memaksa membuka pintu."Junior... Papa cuma mau ngomong sebentar," ujar Arka pelan sambil mendekati pintu, telapak tangannya menyentuh daun pintu dengan hati-hati.Tetap tidak ada jawaban.Amara kembali mengetuk pelan."Nak... Mama minta maaf," ucap Amara sambil terisak, bahunya bergetar hebat. "Mama tahu Mama salah."Keheningan kembali menjadi jawaban.Arka mengembuskan napas panjang. Arka memejamkan mata beberapa detik sebelum kembali berbicara."Papa nggak akan maksa kamu," ujar Arka lembut sambil menundukkan kepala, wajahnya dipenuhi penyesalan. "Papa cuma mau kamu tahu kalau
続きを読む