Debu yang beterbangan perlahan mulai mengendap, mengungkap kehancuran total di pusat kompleks istana. Kaisar Gu Tian, yang sebelumnya melambangkan otoritas mutlak, kini hanyalah sosok yang terpuruk dengan napas yang tersengal-sengal di sela-sela bebatuan pualam yang hancur. Jubah keemasannya telah kehilangan kilaunya, robek di berbagai sisi, dan noda darah tampak memenuhi wajahnya yang kini tampak sangat tua. Ia menatap ke arah depan, tepat pada sosok Long Tian yang mendekat dengan langkah mantap dan tenang, tanpa ada sedikit pun niat untuk mempercepat langkahnya.Kaisar Gu Tian tertawa lirih, suara tawanya pecah oleh batuk yang mengeluarkan darah kental. Ia menyadari bahwa segala rencananya untuk membangun dinasti abadi melalui pengorbanan darah telah runtuh. Tidak ada lagi Tetua Kerajaan yang bisa melindunginya, tidak ada lagi formasi rahasia yang bisa diaktifkan, dan yang paling penting, tidak ada lagi rakyat yang sudi memberikan loyalitas kepada peng
Read more