Taruhan malam itu belum juga usai, dan kini merembet ke urusan yang jauh lebih membingungkan, memilih nama. Karena belum ada yang tahu pasti apakah si kecil di dalam kandungan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, mereka terpaksa harus menyiapkan dua nama sekaligus. Sore itu, meja teh di dekat jendela kamar menara penuh dengan tumpukan buku silsilah keluarga Aristhos yang tebal berdebu, bersanding dengan kamus bahasa kuno wilayah utara. Kaelen duduk bersandar di kursi kayu besar, membolak-balik halaman dengan ekspresi yang sangat serius, seolah sedang menganalisis peta kekuatan musuh. "Aku sudah menemukan nama yang sempurna untuk anak laki-laki kita," kata Kaelen memecah keheningan, suaranya terdengar sangat bangga. Thalassa yang sedang menyeduh teh herbalnya mendongak. "Siapa?" "Keith Aristhos," ucap Kaelen mantap. "Berarti pemimpin yang bijaksana, kuat seperti pohon di hutan, dan mencintai kebebasan. Nama yang sangat gagah dan disegani." Thalassa tertegun sejenak, lalu mel
Baca selengkapnya