Tiga bulan telah berlalu sejak Tatjana Alice Seraphina Aristhos lahir. Hari ini, udara pegunungan Utara terasa lebih sejuk dari biasanya, namun suasana di pelataran kastel justru memanas oleh antisipasi ribuan rakyat yang memadati area luar dinding pertahanan. Mereka datang dari kota bawah, desa terpencil, hingga kawasan tambang, semua ingin menyaksikan sosok yang akan memimpin mereka di masa depan. Kaelen berdiri di balkon utama kastel, mengenakan seragam militer formal yang disematkan dengan jubah bulu serigala hitam kebesaran. Di lengannya, ia mendekap Tatjana yang dibalut gaun sutra putih dengan renda halus. Bayi itu tampak jauh lebih gembul, pipinya yang bulat memerah karena udara dingin, dan kakinya yang gemas terus menendang-nendang jubah ayahnya. Meski terlihat tenang, rahang Kaelen mengeras. Matanya menyapu kerumunan di bawah dengan tatapan waspada, seolah sedang memindai medan perang untuk mencari potensi ancaman bagi putrinya. "Tenanglah, Kaelen," bisik Thalassa, yang be
Read more