Pagi itu, taman belakang kediaman Aristhos menjadi saksi kegesitan langkah kecil Tatjana. Ia tidak lagi sekadar belajar berjalan, melainkan sudah bisa berlari kecil dengan tangan gembul yang terentang lebar. Kaelen dan Thalassa duduk di paviliun kayu, mengawasi setiap gerak-gerik putri mereka.Tatjana tiba-tiba berhenti di depan sebuah bunga mawar besar yang mekar sempurna. Ia berbalik, menatap kedua orang tuanya dengan mata bulat yang berbinar cerdas."Ayah! Lihat! Bunga... besar!" seru Tatjana sembari menunjuk mawar itu dengan bangga.Kaelen tersenyum tipis, bangga melihat betapa lancar putrinya mengekspresikan diri. Namun, sifat protektifnya langsung muncul. Ia berdiri dan mendekati Tatjana dengan langkah sigap. "Iya, Sayang, bunganya cantik. Tapi jangan disentuh ya, ada durinya. Nanti tangan Tatjana sakit."Tatjana memiringkan kepalanya, tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya merentangkan tangan ke arah Kaelen. "Gendong! Ayah, gendong... mau lihat atas!"Kaelen tidak memiliki ke
Baca selengkapnya