Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur dan badai salju di luar kediaman Aristhos mulai mereda, suasana di dalam kamar tetaplah sama. Kaelen tidak melepaskan Thalassa sedikit pun. Ia mendekap tubuh istrinya yang kelelahan dan gemetar dengan sangat erat, menanamkan wajahnya di leher Thalassa. Ia bernapas di sana, seolah-olah aroma kulit Thalassa adalah satu-satunya hal yang menjaga kewarasannya tetap utuh. "Kau tetap di sini," gumam Kaelen dalam tidurnya yang gelisah, suaranya parau. "Kau tidak akan pernah bisa bernapas tanpaku. Kau adalah bagian dari rusukku, Thalassa. Tanpaku, kau hanya akan hancur." Thalassa hanya bisa menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang hampa. Tubuhnya terasa berat, pikirannya tumpul oleh kelelahan, dan jiwanya merasa seperti tawanan dalam sangkar emas. Thalassa menyadari dengan kengerian yang tenang bahwa ia kini benar-benar terperangkap dalam cinta yang ia ciptakan sendiri, sebuah cinta yang terlalu besar, terlalu berat, dan terlalu obsesif untu
続きを読む