Share

Bab 11 Labirin Salju

Penulis: Gauri Nayara
last update Tanggal publikasi: 2026-05-25 13:08:59

Kediaman Aristhos telah kehilangan warnanya. Di luar, badai salju mengamuk, menghapus jalan setapak dan mengubur taman mawar dalam kebekuan yang buta. Bagi dunia, ini adalah bencana tapi bagi Kaelen, ini adalah anugerah. Alam baru saja mengunci gerbangnya, memastikan tidak ada satu jiwa pun yang bisa mengusik isolasi indahnya bersama Thalassa.

Di dalam kamar utama suasananya sangat kontras, hampir seperti berada di dimensi yang berbeda. Udara dipenuhi aroma kayu yang terbakar dari perapian batu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 153 Versi Ayah

    Kata-kata 'tidak pantas' itu seketika memicu Reaksi Berantai di dalam ruangan. Di sudut ruangan, rahang Kaelen mengetat keras hingga otot pipinya menonjol. Sang Duke tidak lagi bisa menahan diri. Ia melangkah lebar menyeberangi ruangan dengan derap langkah sepatu botnya yang berat dan menggema. "Cukup," potong Kaelen dengan suara bariton yang bergema bagaikan guruh di perbatasan utara. Madame Genevieve terlonjak kaget saat tubuh tinggi tegap sang Duke mendadak berdiri menjulang di samping meja kecil Tatjana, memotong jalur pandangnya. "D-duke Aristhos... pelajaran ini belum selesai—" "Pelajaran ini selesai," tegas Kaelen dingin, suaranya tidak menerima bantahan sedikit pun. Pria itu merendahkan tubuhnya, lalu dengan gerakan teramat lembut mengangkat Tatjana dari kursi kayunya, memboyong tubuh gembul yang gemetaran itu ke dalam dekapannya. Tatjana langsung melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher Kaelen, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ayah sembari terisak kecil.

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 152 Pelajaran Etiket

    Pagi itu, atmosfer di Kastel Aristhos terasa berbeda dari biasanya. Matahari utara menyeruak lembut melalui jendela-jendela porselen berukir di aula utama, memantulkan kilau keemasan pada karpet beludru tebal yang membentang luas. Namun, alih-alih diwarnai tawa riang atau langkah kaki mungil yang berlarian menembus koridor, suasana kastel justru dicekam keheningan yang kaku dan formal. Sebabnya jelas, Lady Tatjana Aristhos, putri tunggal penguasa utara yang berusia empat tahun, hari ini dijadwalkan menjalani Pelajaran Etiket Pertama. Thalassa merasa bahwa sudah saatnya sang putri mulai diperkenalkan pada tata krama dasar kebangsawanan. Bagaimanapun juga, Tatjana adalah putri dari seorang Duke berdarah murni. Sifatnya yang terlalu bebas, manipulatif, dan sering kali bertindak sewenang-wenang termasuk menundukkan ayahnya sendiri menjadi seekor kuda perang" bisa menjadi celaan di mata para bangsawan ibu kota jika tidak dibina sejak dini. Untuk tugas berat ini, Thalassa mendatangkan Ma

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 151 Terlalu Dimanjakan

    Suara dengkur halus perlahan mengisi keheningan ruang keluarga. Setelah meluapkan seluruh energi, kemarahan, dan gelak tawa dalam hukuman konyolnya, napas Tatjana akhirnya teratur. Kepala kecilnya yang bersandar di bahu tegap Kaelen, dengan satu jemari mungil yang masih menyangkut di kerah kemeja putih ayahnya. Anak itu telah tertidur lelap, benar-benar kelelahan setelah puas mengerjai dan menundukkan penguasa tertinggi tanah utara. Kaelen membeku di tempatnya berdiri. Kedua tangannya yang berurat tebal kini menopang tubuh gembul Tatjana dengan tingkat ketelitian yang luar biasa, seolah-olah ia sedang memegang benda porselen paling rapuh di dunia. Pria itu menghembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan kelelahan fisik, kepasrahan mental, dan tumpukan stres yang teramat sangat. Thalassa bangkit berdiri dari sofa dengan gerakan anggun tanpa suara. Senyum lembut masih terlukis di bibirnya saat ia mendekati suami dan putrinya. "Biarkan aku membawanya ke kamarnya, Kae

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 150 Hukuman

    Siang harinya, suasana di ruang makan Kastel Aristhos terasa sangat meriah, setidaknya bagi Tatjana. Setelah menyelesaikan ritual denda berkeliling ruang keluarga di atas bahu sang Duke yang pasrah, balita gembul itu kini duduk di kursi tingginya bagaikan seorang hakim cilik yang siap mengeksekusi hukuman utama. Di hadapan Kaelen, sebuah piring porselen besar telah tersaji. Di atas piring itu membumbung potongan-potongan brokoli kukus berwarna hijau pekat yang masih mengepulkan uap tipis. Tidak ada daging panggang berempah, tidak ada saus mentega kaya rasa, ataupun hidangan khas istana yang biasa tersaji untuk penguasa utara. Hanya brokoli polos. Elena berdiri di sudut ruangan sambil menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat sibuk merapikan serbet porselen demi menyembunyikan senyum geli yang terus terbit di wajahnya. Sementara itu, Thalassa duduk di samping Kaelen, memangku dagunya dengan satu tangan sembari menatap suaminya dengan binar mata yang penuh godaan jenaka. "Silakan dinikm

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 149 Kompensasi

    Di atas karpet bulu tebal di dekat perapian, Lady Tatjana sedang duduk bersila, dikelilingi oleh tumpukan boneka beruang dan balok kayu ukir miliknya. Namun, tidak ada cengkerama riang atau tawa nyaring khas balita yang terdengar. Tatjana sengaja memunggungi pintu masuk, melipat kedua lengan gembulnya erat-erat di dada, dan memanyunkan bibirnya begitu panjang hingga pipi bulatnya makin menggelembung. Kaelen memajukan kakinya satu langkah. "Tatjana." Tidak ada jawaban. Balita bergaun katun kuning itu hanya memberikan reaksi berupa hentakan bahu kecil. Kaelen berdeham, mencoba memanggil dengan nada suara resmi yang biasa ia gunakan saat memberi perintah militer. "Lady Tatjana Aristhos. Ayah sedang bicara padamu." Tatjana meraih sebuah boneka kelinci berbulu putih, memeluknya erat-erat, lalu berbisik pada boneka itu dengan suara yang sengaja dikencangkan agar terdengar oleh seluruh ruangan. "Kelinci, hari ini sepi banget ya? Tidak ada siapa-siapa di sini. Cuma ada Tatjana sama Keli

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 148 Kemarahan Sang Putri

    Pagi itu, cahaya matahari utara merayap naik menembus gorden beludru tebal di kamar utama kediaman Aristhos, menyinari sisa-sisa gairah dan kehangatan semalam yang masih tertinggal pekat di udara. Kaelen masih mendekap Thalassa dengan cengkeraman posesif di bawah selimut sutra, menikmati napas teratur sang Duchess di dadanya. Namun, ketenangan manis itu seketika hancur berantakan oleh suara kegaduhan luar biasa dari balik pintu. BRAK! BRAK! BRAK! "BUKAAA! AYAH! BUKAAA!" Suara hantaman tangan mungil pada pintu jati tebal berukir itu terdengar brutal, disusul oleh suara isak tangis tertahan dan bisikan panik yang memelas dari balik pintu. "Lady Tatjana, tolong... jangan sekeras itu. Lord Aristhos bisa marah besar," itu suara Elena, pengasuh setia Tatjana. Suaranya bergetar hebat, terdengar hampir menangis membayangkan amarah sang Duke yang terkenal menakutkan. "Lady, mari kita ke dapur saja, ya? Ada kue jahe hangat..." "TIDAK MAU KUE! MAU IBU!" BRAK! "AYAH CURANG! IBUUU!" Di da

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 7 Bayang-Bayang dari Masa Lalu

    Keheningan di dalam perpustakaan yang sebelumnya terasa hangat, tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mencekam. Kaelen, yang sedang merapikan beberapa buku tua di rak paling atas, tanpa sengaja menjatuhkan sebuah buku bersampul kulit kusam. Dari sela-sela halamannya, sebuah amplop biru pucat terjatuh

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 3 Pesta yang Menyesakkan

    Suasana aula perjamuan kerajaan begitu berkilauan. Ratusan lilin kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya pada gaun-gaun sutra dan lencana militer para bangsawan. Namun, bagi Thalassa, kemewahan ini terasa asing. Ia melangkah dengan anggun di samping Kaelen, tangan mungilnya terseli

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 2 Istri yang Berubah

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden beludru, namun atmosfer di dalam kamar utama kediaman Aristhos terasa jauh lebih panas. Kaelen Aristhos masih berdiri di posisi yang sama sejak semalam, duduk di tepi ranjang dengan jemari yang masih mengunci pergelangan tangan Thalassa. Ia tidak tidur. Pri

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 1 Napas Kedua Setelah Kematian

    Embun beku menusuk tulang di malam musim dingin, sama seperti rasa dingin yang telah lama bersarang di dada Thalassa. Di ranjang yang luas, ia terbaring sendirian, matanya menatap langit-langit yang dihiasi ukiran mewah. Sebuah ukiran yang tak pernah ia perhatikan di tahun-tahun pernikahannya.Tang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status