Gladys tidak tahu bagaimana Keisha bisa menyadarinya. Dia merasa dirinya cukup pandai menyembunyikan emosi, tetapi Keisha tetap berhasil menangkapnya. Gladys bukan tidak bahagia, juga bukan sedih atau patah hati.Hanya saja, saat terlalu banyak hal menumpuk sekaligus, semuanya hanya bisa terus dipendam di dalam dada."Nggak kok, mana mungkin." Gladys mengepalkan tangannya pelan, senyum di wajahnya menjadi jauh lebih lembut. "Sayang sudah mandi?"Keisha mengangguk. Wajah mungilnya menempel di layar ponsel, lalu menggesek-gesekkannya pelan, seolah sedang diam-diam menghibur Gladys."Mama, jangan sedih. Aku tahu Mama lagi mengalihkan topik. Nggak apa-apa, kok. Nanti kalau aku sudah kembali ke sisi Mama, Mama pasti akan bahagia."Gladys buru-buru menutup kamera ponsel di dadanya. Dia mendongak, ingin memaksa air mata di matanya kembali masuk. Namun, tetap tidak berhasil.Begitu banyak hal terjadi belakangan ini. Meski dia terlihat tegas dan kuat, sebenarnya dia hanya terus menahan semuanya
Read more